Connect with us

KUKAR

Erau 2026 Jadi Panggung Keberagaman Budaya Kalimantan Timur

Published

on

Panggung kolosal Erau 2026 tidak hanya menjadi ruang pertunjukan bagi seniman Kutai Kartanegara (Kukar), tetapi juga memperlihatkan keberagaman budaya yang hidup di Kalimantan Timur.

Pertunjukan bertajuk Penjaga Tahta di Tepian Mahakam melibatkan sekitar 350 penari dengan latar komunitas yang beragam. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menghadirkan pertunjukan yang menggambarkan kekayaan budaya di Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, mengatakan keterlibatan berbagai komunitas dalam pertunjukan Erau menunjukkan bahwa kebudayaan tidak berdiri sendiri berdasarkan satu kelompok.

“Erau menjadi ruang pertemuan banyak kebudayaan. Kita ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya di Kalimantan Timur sangat beragam dan semuanya bisa hadir dalam satu panggung,” kata Heriansyah, Rabu (7/10/2026)

Sejumlah komunitas Dayak, di antaranya Dayak Modang, Dayak Kenyah dan Dayak Benua, turut terlibat dalam produksi pertunjukan tersebut. Keterlibatan berbagai kelompok itu memperkuat pesan bahwa keberagaman merupakan bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat di Kalimantan Timur.

Menurut Heriansyah, kolaborasi semacam itu juga memberikan pengalaman bagi para pelaku seni untuk bekerja dalam produksi berskala besar. Mereka tidak hanya tampil di hadapan penonton, tetapi juga belajar mengenai proses kreatif, kerja tim dan pengelolaan sebuah pertunjukan.

“Yang paling penting bukan hanya pertunjukannya selesai. Ada proses yang dilalui para seniman, ada pengalaman, ada interaksi antar-komunitas, dan itu menjadi bagian dari pembentukan ekosistem kebudayaan,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh para penampil dalam Erau dapat menjadi modal untuk kegiatan seni berikutnya. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus mendorong agar agenda kebudayaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kelompok sekaligus memberi kesempatan bagi seniman untuk berkembang.

“Jangan melihat keterlibatan dalam Erau hanya sebagai kegiatan satu kali. Pengalaman ini bisa menjadi dasar untuk produksi-produksi berikutnya, karena kita ingin seniman terus berkembang dan kebudayaan kita semakin hidup,” tutup Heriansyah. (rnd/Adv Diskominfo Kukar)

POPULER