NUSANTARA
Ketum PSSI Erick Thohir Sebut Insiden PON Aceh Vs Sulteng Memalukan, Wasit dan Pemukul Wasit Terancam Sanksi Seumur Hidup
Ketum PSSI Erick Thohir mengutuk keras kericuhan yang terjadi di pertandingan sepak bola PON Aceh melawan Sulteng. PSSI akan melakukan investigasi, dan segera menjatuhkan sanksi berat pada yang terbukti bersalah.
Beberapa hari setelah Timnas Indonesia untuk pertama kalinya bermain di Putaran Ketiga Piala Dunia, dan mendapat poin dari raksasa Asia; Arab Saudi serta Australia. Tontonan sepak bola pada ajang PON 2024, yang mempertemukan tim tuan rumah Aceh melawan Sulawesi Tengah adalah anomalinya.
Ya, di laga itu, wasit Eko Agus Sugiharto mengambil cukup banyak keputusan kontroversial, yang cenderung menguntungkan tuan rumah. Dari pemberian kartu merah langsung, hingga 2 penalti gaib.
Puncak keributan adalah saat pemain Sulteng Muhammad Rizki memukul wasit hingga KO di tempat. Dan meninggalkan lapangan dengan bantuan ambulans. Selain pemain dan wasit, pelatih, tim ofisial, hingga penonton pun terlibat kekisruhan.
Dalam 1 laga, masyarakat dipertontonkan aksi kecurangan wasit, kebrutalan pemain, keributan pinggir lapangan, hingga penonton yang melempar botol. Erick Thohir menyebut semua yang terjadi di laga ini dengan, “Memalukan. Sangat memalukan. PSSI akan mengusut tuntas peristiwa ini dan akan menjatuhkan sanksi terberat!”
Pemain dan Wasit Terancam Sanksi Seumur Hidup
Kata Erick, PSSI akan melakukan investigasi terkait laga ini. Dimulai dari kepemimpinan wasit yang terlihat penuh kejanggalan, hingga merusak pertandingan. Termasuk pemain yang melakukan pemukulan terhadap wasit.
“Pastinya akan dilakukan investigasi mendalam. Indikasi pertandingan yang tidak fair menjadi materi serius yang ditelaah. Pun halnya reaksi pemain yang dipastikan berbuah sanksi yang sangat berat,” kata Erick di laman resmi PSSI, Minggu.
Ia belum tahu PSSI akan menjatuhkan sanksi apa, namun Erick menyebut keduanya berpotensi terkena sanksi larangan berkecimpung di sepak bola selama seumur hidup. Sanksi berat ini akan setimpal untuk tindakan mencoreng sepak bola Indonesia, yang saat ini sedang diupayakan bangkit.
Terkait pemain yang memukul wasit karena kesal timnya terus menerus dicurangi, Erick bilang, tak ada pembenaran untuk tindakan tidak sportif semacam itu.
“Ini adalah tindakan kriminal yang punya konsekuensi hukum. Skandal soal keputusan wasit jadi hal lain yang juga punya konsekuensi hukum jika memang ternyata terindikasi diatur oleh oknum tertentu.”
“Tidak ada toleransi bagi pihak yang telah dengan sengaja melanggar komitmen fair play. Sanksi bukan sekadar hukuman melainkan statement dari sepak bola Indonesia yang tidak mentolerir sedikitpun praktik di luar fair play,” pungkasnya. (dra)
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoWaspada Banjir Rob, BMKG Peringatkan Pasang Laut Kaltim Capai 2,8 Meter Sepekan ke Depan
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoCuma Disokong Rp5 Juta, Kampung Ramadan Temindung Sukses Gerakkan Ekonomi Samarinda
-
SAMARINDA4 hari agoBukan Pasar Musiman Biasa, Dispar Kaltim Apresiasi Kampung Ramadan Temindung yang Jadi Magnet Ngabuburit Baru Samarinda
-
NUSANTARA3 hari agoDua Hari Safari di IKN, Menag Nasaruddin Umar Bicara Toleransi hingga Kota yang Dirindukan
-
NUSANTARA3 hari agoMenag Gagas Istiqlal dan IKN Jadi ‘Masjid Kembar’, Siapkan Beasiswa Ulama via LPDP
-
NUSANTARA3 hari agoRun The City by Grand Filano Jadi Cara Baru Anak Muda untuk Menikmati Olahraga Sambil Hangout Bareng
-
SEPUTAR KALTIM1 hari agoTingkatkan Nilai Jual, DKP Kaltim Pacu Nelayan Olah Tangkapan Jadi Produk Turunan
-
NUSANTARA2 hari agoBukti Pembinaan Mendunia Yamaha Racing Indonesia, Aldi Satya Mahendra Ukir Sejarah di World Supersport Australia, Selanjutnya Targetkan Juara Race

