KUKAR
Kukar Geser Perhatian ke Fase Awal Kehidupan dalam Pencegahan Stunting

Mencegah stunting tidak cukup dilakukan ketika gangguan pertumbuhan sudah terlihat pada anak. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperkuat perhatian pada fase awal kehidupan, terutama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sebagai bagian dari strategi pencegahan.
Fase tersebut mencakup masa sejak terjadinya konsepsi, kehamilan, hingga anak berusia sekitar dua tahun. Pada periode itu, pemenuhan kebutuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang menjadi bagian penting yang terus diperkuat melalui layanan kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Ismi Mufiddah, mengatakan pendekatan tersebut membuat penanganan tidak menunggu sampai seorang anak dinyatakan mengalami stunting. Upaya justru diarahkan lebih awal dengan memperhatikan kondisi ibu dan anak sejak masa kehamilan.
“Jadi kita memang fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Artinya mulai dari konsepsi, pendidikan bagi ibu hamil, sampai usia anak itu kurang lebih dua tahun,” kata Ismi, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, masa kehamilan menjadi salah satu pintu penting dalam upaya pencegahan. Edukasi kepada ibu hamil menjadi bagian dari intervensi agar keluarga memahami kebutuhan yang harus dipenuhi sebelum bayi lahir hingga memasuki masa pertumbuhan awal.
Pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan setelah anak lahir. Pemantauan kondisi gizi dilakukan secara berkala agar perubahan pertumbuhan dapat diketahui sedini mungkin. Posyandu menjadi salah satu titik pelayanan yang berperan dalam proses tersebut.
“Jadi 1.000 HPK itu dari hamil sampai anaknya berusia dua tahun. Nah, ini semakin ke sini itu semakin kencang. Artinya lokus-lokus semakin kita kejar untuk penguatannya,” ujarnya.
Ismi menyebut penguatan pemantauan menjadi bagian penting karena keberhasilan pencegahan tidak hanya ditentukan oleh adanya program, tetapi juga kemampuan menemukan persoalan pertumbuhan sedini mungkin. Semakin cepat kondisi anak diketahui, semakin cepat pula intervensi dapat disesuaikan.
“Pemantauan status gizinya diperkuat lagi supaya kasus-kasus stunting itu ditemukan secara lebih dini. Jadi memang penguatannya itu di pemantauan status gizi, ya di Posyandu,” jelasnya.
Di sisi lain, periode 1.000 HPK juga menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan keluarga. Orang tua menjadi bagian penting dalam memastikan kebutuhan anak terpenuhi sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan.
Karena itu, penguatan pelayanan di tingkat masyarakat terus diarahkan agar kelompok sasaran tidak hanya menerima layanan ketika muncul masalah, tetapi memperoleh pemantauan secara rutin. Pola tersebut diharapkan membuat potensi gangguan pertumbuhan dapat dikenali lebih awal.
“Artinya lokus-lokus semakin kita kejar untuk penguatannya. Pemantauan status gizinya diperkuat lagi supaya kasus-kasus stunting itu ditemukan secara lebih dini,” pungkas Ismi. (rnd/Adv Diskominfo Kukar).
-
NUSANTARA4 hari agoAdik Presiden Prabowo Sebut Hutan Rusak Jadi Sumber Karhutla, 12,7 Juta Hektare Disiapkan untuk B50-B100
-
FEATURE5 hari agoPameran Di Balik Situs Angkat Kisah Sejarah Kaltim dan Kaltara Lewat Seni Rupa
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoPemprov Kaltim Siapkan Surat Edaran Pembatasan Peredaran Vape
-
POLITIK5 hari agoRudy Mas’ud ke Singapura untuk Medical Check Up, Pemprov Jelaskan Izin Perjalanan
-
KUKAR4 hari agoDesa Penghubung IKN Jadi Lokasi TMMD ke-130 di Kukar
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoEl Nino Kuat Berlanjut hingga 2027, Kaltim Diminta Waspadai Kemarau Panjang dan Bencana Hidrometeorologi
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoMediasi Kasus Dugaan Kelalaian Dokter RSUD AWS Buntu, Keluarga Pasien Tempuh Jalur Hukum
-
NUSANTARA5 hari agoApresiasi Konsumen, Yamaha Ajak Nonton Langsung MotoGP Mandalika dan Wisata Lombok
