SEPUTAR KALTIM
Masih Banyak Kendala, Target Cetak 20 Ribu Hektare Sawah di Kaltim Baru Terealisasi 6.600
Realisasi cetak sawah di Kaltim baru 6.600 hektare dari target 20.000 hektare. Wagub Seno Aji desak percepatan dan penggunaan teknologi di sisa waktu 10 bulan.
Jalan menuju swasembada pangan Kalimantan Timur pada tahun 2026 ternyata masih terjal. Program percepatan cetak sawah rakyat yang digadang-gadang sebagai solusi, realisasinya masih jauh dari harapan.
Dari alokasi target 20.000 hektare yang ditetapkan pemerintah pusat, hingga kini baru terealisasi sekitar 6.600 hektare. Ketimpangan data ini menjadi sorotan serius Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, saat menerima audiensi Kelompok Tani Kabupaten Kutai Kartanegara di Ruang Rapat Wakil Gubernur, Jumat 23 Januari 2026.
“Kalau 20.000 hektare ini bisa kita cetak dan panen dua kali setahun, maka swasembada pangan Kaltim bisa kita capai dengan produksi sekitar 350 ribu sampai 400 ribu ton per tahun. Tapi progresnya saat ini masih lambat, sementara target dari pusat cukup ketat,” tegas Seno Aji.
Kendala Air hingga Tata Ruang
Lambatnya progres ini bukan tanpa sebab. Dalam audiensi tersebut, para petani menumpahkan keluh kesah terkait kondisi di lapangan. Mulai dari penyusutan luasan lahan sawah dari usulan awal, hingga masalah klasik gagal panen akibat debit air Sungai Mahakam yang tak menentu.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kaltim, Fahmi Himawan, juga membeberkan masalah struktural tata ruang.
Berdasarkan radiogram kementerian, alokasi cetak sawah terbagi di Kutai Barat (11.500 Ha), Kutai Kartanegara (6.500 Ha), dan Berau (2.000 Ha). Namun, di tingkat kabupaten, sebagian besar lahan potensial tersebut justru sudah dialokasikan untuk perkebunan.
“Untuk Berau, seluruhnya sudah clear dan saat ini masih berproses pada tahap SID (Survei Investigasi Desain),” jelas Fahmi.
Dorong Teknologi di Sisa Waktu
Melihat sempitnya waktu yang tersisa, Wagub Seno Aji meminta seluruh pihak “tancap gas”. Ia mencontohkan sukses panen raya di Bukit Biru yang menggunakan teknologi modern (mekanisasi dan drone) sebagai bukti bahwa Kaltim mampu jika dikelola dengan benar.
“Tinggal bagaimana kita mempercepat pendataan CPCL, melakukan verifikasi lapangan, dilanjutkan SID, dan segera menetapkan denah sawah. Waktu kita tidak banyak, hanya sekitar 10 bulan ke depan,” pungkas Seno. (ens)
-
SAMARINDA4 hari agoSamarinda Menuju Usia 358 Tahun: Menelusuri Jejak Enam Kampung Purba dan Akar Sejarah Kota Mahakam
-
FEATURE3 hari agoBukan Sekadar di Pinggir Sungai, Ini Filosofi Mendalam di Balik Julukan ‘Samarinda Kota Tepian’
-
BALIKPAPAN3 hari agoPendaftaran Balikpapan CSR Awards 2026 Dibuka, 8 Sektor Ini Jadi Prioritas Penilaian
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoBibit Siklon Tropis 97S Kepung Indonesia Bagian Selatan, Begini Prediksi Cuaca Kaltim Sepekan ke Depan
-
BERITA4 hari agoPrakiraan Cuaca Sepekan: Bibit Siklon 97S Muncul, Wilayah Selatan Indonesia Waspada Hujan Ekstrem
-
NUSANTARA2 hari agoLangsung Jadi Idola, Toprak Razgatlıoğlu Bikin Kagum Pelajar SMK Negeri 39 Jakarta
-
FEATURE3 hari agoMenyusuri Denyut Nadi Kaltim: 4 Fakta Memikat Sungai Mahakam, dari Habitat Pesut hingga Mitos Air Bertuah
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoIntip Pesona “Maldives” Kalimantan Timur: 5 Spot Surga Wisata di Pulau Maratua

