KUKAR
Raga Pantas, Ikhtiar Kukar Bangun Model Penanganan Stunting Berbasis Konvergensi


Penanganan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak dibangun dalam waktu singkat. Pemerintah daerah mulai memperkuat pola penanganan secara lebih terarah sejak Kukar masuk dalam lokus konvergensi stunting pada 2019.
Momentum tersebut kemudian mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara untuk tidak hanya mengandalkan program rutin, tetapi juga mengembangkan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Salah satu inovasi yang lahir dari proses tersebut adalah Raga Pantas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Ismi Mufiddah, mengatakan perhatian terhadap persoalan gizi sebenarnya telah dilakukan pemerintah sebelum 2019. Namun, penetapan Kukar sebagai salah satu lokus konvergensi membuat penanganan stunting semakin diarahkan dalam kerangka yang lebih terintegrasi.
“Untuk penanganan stunting kita sudah mulai sejak tahun 2019, bahkan sebelumnya sudah itu. Karena memang waktu itu selain gizi buruk, pemerintah pusat juga mulai fokus ke kasus-kasus,” kata Ismi, Selasa (29/9/2026).
Menurut dia, inovasi kemudian diperlukan agar pendekatan penanganan yang dilakukan di tingkat daerah tidak berhenti pada pelayanan kesehatan semata. Raga Pantas dikembangkan sebagai salah satu bentuk upaya Kukar menerjemahkan semangat konvergensi tersebut ke dalam program daerah.
“Dari tahun 2019 sebenarnya kami berupaya untuk membuat inovasi. Kemudian pada saat itu juga Kukar menjadi salah satu lokus konvergensi stunting. Jadi kita membuat inovasi yang namanya Raga Pantas,” ujarnya.
Ismi menjelaskan, penanganan stunting membutuhkan proses yang berkelanjutan karena persoalan pertumbuhan anak berkaitan dengan banyak faktor. Karena itu, inovasi daerah ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat pelaksanaan program sekaligus mendorong keterhubungan antarintervensi.
“Intinya ada program itu dan memang permasalahan stunting juga menjadi masalah di Kukar. Kita membuat program-program percepatan dengan inovasi rata-rata,” jelasnya.
Perjalanan tersebut sempat menghadapi situasi yang berbeda ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas pemerintahan dan pelayanan masyarakat mengalami keterbatasan, termasuk pelaksanaan berbagai kegiatan di desa yang menjadi lokus penanganan stunting.
Meski demikian, intervensi terhadap stunting tetap diupayakan berjalan. Ismi menyebut konsistensi program tetap dijaga, walaupun pada masa pandemi konsentrasi pemerintah desa dan unsur pelaksana di lapangan turut terpengaruh kondisi darurat kesehatan.
“Pada masa Covid pun kita melakukan kegiatan untuk stunting secara konsisten, tapi mungkin juga di lapangan para kepala desa yang jadi lokus belum bisa fokus secara optimal karena kondisi Covid pada saat itu,” ungkapnya.
Memasuki masa setelah pandemi, penguatan kembali diarahkan pada kerja bersama antarperangkat daerah. Dinas Kesehatan tidak hanya memperkuat program di sektor kesehatan, tetapi juga kembali mendorong keterhubungan program dengan sektor lain yang memiliki kewenangan terhadap faktor penyebab stunting.
“Setelah Covid berakhir tahun 2022 kita mulai lagilah untuk mensinergikan lagi lintas sektor dan kegiatan yang di kita spesifiknya juga kita perkuat,” pungkas Ismi. (rnd/Adv Diskominfo Kukar).

OLAHRAGA5 hari agoShell BLU CRU Yamaha Enduro Challenge Serbu Sidoarjo, Sensasi Adventure Makin Memanas
SEPUTAR KALTIM1 hari agoRudy Mas’ud Rotasi 49 Pejabat Pemprov Kaltim, Enam Kepala OPD Bergeser
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoPINTU Perkenalkan VIP Private, Akses Tokenized Assets Bersama Ondo Finance Makin Luas
SEPUTAR KALTIM1 hari agoBacklog Perumahan Kaltim Tembus 591 Ribu KK, Pemprov Genjot Subsidi Biaya Rumah dan RTLH
KUKAR4 hari agoMinat Generasi Muda terhadap Seni Rupa Kukar Terus Tumbuh
KUKAR4 hari agoRuang Publik Didorong Jadi Wadah Berkesenian
KUKAR4 hari agoEnam Perupa Tampilkan Karya dalam Pameran Seni Rupa Erau 2026
KUKAR2 hari agoAtlet Kukar Matangkan Persiapan Jelang Porprov Kaltim di Paser





