Connect with us

SEPUTAR KALTIM

Karhutla Kaltim, 20 Puskesmas Disiapkan Jadi Rumah Oksigen untuk Antisipasi ISPA

Published

on

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan fasilitas kesehatan menghadapi kemungkinan meningkatnya gangguan pernapasan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sebanyak 20 Rumah Oksigen disiagakan di puskesmas yang tersebar pada 10 kabupaten/kota di Kaltim. Fasilitas tersebut dipersiapkan sebagai langkah antisipasi apabila kabut asap mulai berdampak terhadap kualitas udara dan memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena gangguan pernapasan dapat meningkat ketika masyarakat terpapar asap karhutla.

“Kedaruratan ISPA ini adalah imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” kata Jaya di Samarinda, dikutip dari Antara.

Menurut Jaya, penyiagaan Rumah Oksigen merupakan bagian dari kesiapan pemerintah menghadapi kemungkinan memburuknya kondisi kesehatan masyarakat akibat perubahan kualitas udara.

Ratusan Tabung Oksigen Disiapkan

Tidak hanya menyiagakan fasilitas, Dinkes Kaltim juga menyiapkan peralatan pendukung agar layanan dapat segera digunakan ketika dibutuhkan.

Cadangan yang disiapkan terdiri dari 128 tabung oksigen portabel berkapasitas satu meter kubik, 64 tabung oksigen berkapasitas enam meter kubik, serta 197 set regulator dan selang pernapasan atau nasal cannula.

Sejumlah wilayah juga menjadi perhatian khusus karena memiliki potensi terdampak karhutla. Di antaranya Kecamatan Sambaliung dan Pulau Derawan di Kabupaten Berau, Sangkulirang dan Muara Wahau di Kabupaten Kutai Timur, serta Muara Badak dan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan kasus ISPA melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan.

Data tersebut menunjukkan ISPA masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan di sejumlah daerah Kaltim.

“Kasus kumulatif tertinggi saat ini tercatat di Kota Balikpapan sebanyak 66.468 kasus, disusul Kota Samarinda 48.230 kasus dan Kabupaten Kutai Kartanegara 29.453 kasus,” ujar Jaya.

Angka tersebut menjadi salah satu dasar kewaspadaan pemerintah, terutama ketika ancaman karhutla masih berlangsung dan kualitas udara berpotensi menurun akibat asap.

Untuk memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, Dinkes Kaltim juga telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.7.7.1/2277/DINKES-III pada Agustus 2026.

Surat edaran tersebut menjadi pedoman bagi fasilitas kesehatan dalam melakukan standardisasi diagnosis dan tata laksana penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim.

Kelompok Rentan Jadi Perhatian

Dinkes Kaltim juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.

Kelompok tersebut meliputi bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.

“Fokus utama perlindungan kesehatan saat ini adalah kelompok rentan,” jelas Jaya.

Selain menyiapkan oksigen, Dinkes Kaltim juga mempercepat pendistribusian masker darurat ke sejumlah lokasi prioritas yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi paparan asap, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan aktivitas karhutla cukup tinggi.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara mulai menurun. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok rentan.

Bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan asap dan debu.

Jaya juga meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mulai mengalami keluhan yang berkaitan dengan pernapasan.

Kesiapan 20 Rumah Oksigen, cadangan ratusan tabung oksigen, distribusi masker hingga penguatan layanan puskesmas menjadi bagian dari upaya Pemprov Kaltim menghadapi dampak kesehatan akibat karhutla.

Dengan ancaman asap yang dapat berubah mengikuti arah angin dan kondisi kebakaran di lapangan, kesiapan fasilitas kesehatan dinilai penting agar masyarakat tetap mendapatkan pertolongan apabila terjadi peningkatan gangguan pernapasan. (Am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER