Connect with us

KUKAR

Kukar Ingin Pangkas Rantai Pemasaran, Petani Tak Hanya Jadi Penghasil Pangan

Published

on

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong penguatan jalur pemasaran hasil pertanian agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih layak. Upaya ini diarahkan untuk memperpendek rantai perdagangan yang selama ini berpotensi membuat harga jual di tingkat produsen tidak sebanding dengan harga yang dibayarkan konsumen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kukar, Ananias, mengatakan peningkatan produksi perlu diikuti kemampuan petani dalam memasarkan hasil panen. Sebab, keberhasilan pertanian tidak cukup diukur dari banyaknya produk yang dihasilkan, tetapi juga dari keuntungan yang diterima petani setelah produk tersebut terjual.

“Petani jangan hanya berorientasi pada bagaimana menghasilkan produk. Pemasaran juga harus diperhatikan supaya hasil pertanian mereka benar-benar memberikan nilai ekonomi,” ujar Ananias, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah panjangnya jalur distribusi dari produsen menuju konsumen. Semakin banyak perantara yang terlibat, semakin besar pula kemungkinan terjadi perbedaan antara harga yang diterima petani dan harga akhir di pasaran.

Karena itu, DKP Kukar mendorong terbentuknya hubungan pemasaran yang lebih dekat antara kelompok tani dan masyarakat sebagai konsumen. Organisasi yang telah berkembang di masyarakat dapat dimanfaatkan untuk membuka jalur perdagangan tersebut.

“Kelompok-kelompok yang ada perlu dimanfaatkan. Mereka bisa menjadi penghubung antara petani yang menghasilkan produk dengan masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.

Ananias menyebut Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) memiliki peluang untuk mengambil peran dalam mempertemukan produsen dengan pembeli. Keberadaan kelompok tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai wadah kegiatan pertanian, tetapi juga membantu memperluas jaringan pemasaran.

“Harapannya, petani mendapatkan harga yang semakin layak dan masyarakat juga bisa membeli dengan harga terjangkau,” katanya.

Ia menegaskan, pemasaran langsung perlu menjadi bagian dari pengembangan usaha pertanian agar petani memiliki posisi lebih baik dalam rantai perdagangan. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari hasil produksi dapat lebih banyak dirasakan oleh pihak yang mengusahakan pertanian.

“Yang ingin kita dorong bukan hanya produk petani bisa terjual, tetapi bagaimana pemasaran itu bisa terus berjalan dan memberikan manfaat bagi petaninya,” tutup Ananias. (rk/Adv Diskominfo Kukar)

POPULER