Connect with us

SAMARINDA

Balita di Samarinda Meninggal Setelah Sesak Napas, Ibu Ceritakan Kronologi Perawatan

Published

on

Sindhy Jumatun, ibu balita YS, menceritakan kronologi kondisi anaknya yang meninggal dunia setelah mengalami sesak napas di Samarinda. (Foto: Kaltim Faktual)

Sindhy Jumatun, 25 tahun, masih mengingat jelas bagaimana kondisi anak perempuannya, YS, memburuk setelah mengalami sesak napas. Balita berusia 1 tahun 2 bulan itu sempat dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan sebelum akhirnya meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) pukul 06.47 Wita.

Warga Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, itu mengatakan anaknya tidak memiliki riwayat asma maupun penyakit pernapasan lain. Selama ini, YS rutin menjalani pemeriksaan kesehatan setiap dua pekan karena mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan peradangan pada mata.

“Anak saya tidak memiliki riwayat penyakit pernapasan. Kondisi bawaannya hanya keterlambatan tumbuh kembang dan peradangan di mata. Dari umurnya 7 atau 8 bulan, setiap dua minggu sekali saya bawa kontrol. Selama itu juga tidak pernah ada riwayat keluhan pernapasan seperti asma atau yang lain,” kata Sindhy saat ditemui Jumat (16/10/2026).

Sindhy mengaku belum mengetahui penyebab pasti gangguan pernapasan yang dialami anaknya. Namun, ia menyebut lingkungan tempat tinggalnya kerap terpapar asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut dia, abu sisa pembakaran hampir setiap pagi ditemukan di teras rumahnya. Asap juga disebut kerap terbawa angin hingga ke lingkungan tempat tinggalnya.

“Ini tiap pagi abu bekas bakaran pasti ada. Anginnya hampir tiap hari ke sini. Asapnya sampai ke rumah. Tapi apakah itu yang menjadi penyebab kondisi anak saya? Saya tidak bisa bicara banyak. Yang jelas anak saya mengalami sesak napas,” tuturnya.

Meski merasakan dampak asap di sekitar rumah, Sindhy tidak memastikan paparan tersebut menjadi penyebab sakit yang dialami YS. Hubungan antara kondisi lingkungan dan gangguan pernapasan yang dialami balita itu masih memerlukan penjelasan medis.

Kondisi Memburuk, Sempat Dibawa ke Beberapa Fasilitas Kesehatan

Sindhy mengatakan keluhan sesak napas mulai muncul sekitar sepekan sebelum anaknya meninggal. Pada Kamis (8/10/2026), ia membawa YS ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan.

Saat itu, menurut Sindhy, kondisi saturasi oksigen anaknya masih normal sehingga keluhan yang dialami belum terlihat separah hari-hari berikutnya.

“Sesak napasnya itu sejak seminggu yang lalu. Hari Kamis itu sudah saya bawa ke rumah sakit, cuma kan belum parah. Saturasinya masih normal,” ujarnya.

Kondisi YS kemudian memburuk. Pada Rabu (14/10/2026), Sindhy kembali membawa anaknya ke puskesmas. Dokter di fasilitas kesehatan tersebut, menurut penuturannya, menemukan suara tambahan saat YS bernapas dan menyarankan agar balita itu menjalani rawat inap.

Sindhy lalu membawa YS ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit. Ia mengaku menyampaikan kembali hasil pemeriksaan dari puskesmas, termasuk adanya tarikan napas dan suara tambahan ketika anaknya bernapas.

“Di IGD, saya sampaikan apa kata dokter di puskesmas kalau ini sudah ada tarikan napasnya, sudah ada tambahan suara,” katanya.

Namun, menurut Sindhy, dokter IGD saat itu menilai kondisi anaknya belum memerlukan rawat inap. Ia mengingat dokter menjelaskan bahwa anak berusia sekitar satu tahun masih menggunakan perut dalam proses pernapasan.

“Tapi dokter di IGD bilang enggak apa-apa, soalnya bayi satu tahun itu pernapasannya masih lewat perut,” ujarnya.

Setelah itu, Sindhy kembali ke puskesmas untuk meminta rujukan ke poli anak di rumah sakit. Di poli anak, ia mengatakan dokter kembali menyarankan agar YS dirawat karena terdapat tarikan napas.

“Dokter di poli anak bilang, ‘Bu, ini sudah ada tarikan napasnya. Ini adik harus opname. Kenapa Ibu enggak langsung ke IGD?’ Saya jawab, saya dari IGD, tapi kata IGD disuruh rawat jalan,” tuturnya.

Sindhy kemudian kembali ke IGD. YS mendapat penanganan berupa pemasangan infus dan nebulisasi sebelum akhirnya memperoleh kamar rawat inap.

Napas Semakin Berat hingga Dipindahkan ke Ruang PICU

Selama menjalani rawat inap, kondisi YS sempat membaik setelah mendapatkan penanganan medis. Namun, menurut Sindhy, kondisi anaknya kembali menurun sejak tengah malam hingga menjelang subuh.

Ia mengatakan napas YS semakin berat sepanjang malam. Sindhy bersama keluarga beberapa kali menekan bel untuk meminta bantuan perawat yang bertugas di ruang rawat.

“Sepanjang malam itu berulang kali kami tekan bel untuk memanggil perawatnya. Karena napasnya sudah makin berat,” ungkapnya.

Menjelang pagi, tubuh YS disebut mulai membiru dan napasnya berhenti. Tenaga medis kemudian melakukan resusitasi untuk membantu memulihkan pernapasan dan sirkulasi darahnya.

YS sempat kembali bernapas setelah tindakan tersebut. Namun, kondisinya masih lemah sehingga kemudian dipindahkan ke ruang pediatric intensive care unit (PICU) untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Upaya medis tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa YS. Balita itu dinyatakan meninggal dunia pada pukul 06.47 Wita, Rabu (14/10/2026).

Sindhy juga meluruskan informasi mengenai durasi perawatan anaknya di ruang PICU. Ia menegaskan YS hanya dipindahkan ke ruangan tersebut untuk mendapatkan penanganan lanjutan dan tidak menjalani perawatan semalam di sana.

“Anak saya tidak bermalam di PICU. Jadi kalau ada yang bilang anak saya bermalam di PICU, itu keliru,” pungkasnya.

Hingga berita ini disusun, kronologi perawatan di atas berdasarkan penuturan Sindhy. Penjelasan dari pihak rumah sakit mengenai rangkaian penanganan medis serta penyebab pasti meninggalnya YS diperlukan untuk memberikan gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut. (Gi/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER