Connect with us

BERITA

Bukan Pandemi Baru, Ini Fakta “Superflu” yang Bikin Kasus Rawat Inap di AS Melonjak

Published

on

Meski memicu lonjakan rawat inap di AS, Superflu atau H3N2 subclade K dipastikan bukan pandemi baru. Simak fakta gejala dan penyebarannya di Indonesia.

Istilah “Superflu” belakangan ramai menjadi perbincangan publik menyusul lonjakan kasus influenza yang signifikan di Amerika Serikat (AS). Meski fenomena ini memicu kekhawatiran akan adanya wabah baru, otoritas kesehatan memastikan bahwa virus ini bukanlah ancaman pandemi anyar, melainkan varian influenza musiman yang bermutasi menjadi lebih agresif.

Secara medis, virus yang mendapat julukan “Superflu” ini teridentifikasi sebagai Influenza A (H3N2) subclade K. Varian ini rupanya yang menjadi biang kerok lonjakan pasien di AS.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mencatat, hingga akhir Desember 2025, sedikitnya 7,5 juta warga terinfeksi, dengan 81.000 di antaranya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Situasi di Indonesia

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mendeteksi keberadaan varian ini. Melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS), tercatat 62 temuan kasus konfirmasi yang tersebar di delapan provinsi, termasuk Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Namun, kalangan ahli medis meragukan jika angka tersebut mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Mengingat minimnya jumlah spesimen yang diperiksa dibandingkan dengan populasi. Para pakar menduga penyebaran subclade K di masyarakat sebenarnya jauh lebih luas, mirip dengan pola lonjakan yang terjadi di negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang.

Gejala Lebih Berat dari Flu Biasa

Meski bukan virus baru, subclade K memiliki karakteristik klinis yang lebih menyiksa daripada flu biasa. Perbedaan paling mencolok terletak pada suhu tubuh penderita. Jika demam flu biasa umumnya berkisar di angka 37 hingga 38 derajat Celcius, varian ini mampu memicu demam tinggi ekstrem hingga 39 sampai 41 derajat Celcius.

Selain demam tinggi, penderita juga kerap mengalami nyeri otot (myalgia) hebat, sakit kepala berat, kelelahan ekstrem, serta batuk kering. Kendati gejalanya lebih berat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut risiko kematiannya relatif sama dengan influenza musiman, kecuali pada pasien yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Pencegahan dan Efektivitas Vaksin

Menghadapi situasi ini, para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa perlu panik berlebihan. Status subclade K ditegaskan belum mengarah pada kategori pandemi karena masih dalam rumpun influenza musiman.

Terkait perlindungan, vaksin influenza yang tersedia saat ini masih cukup efektif. Meski vaksin tersebut pengembangan dari subvarian H3N2 lama, studi menunjukkan adanya efektivitas silang. Sekitar 40 persen pada orang dewasa dan 70 persen pada anak dalam mencegah keparahan penyakit.

Langkah pencegahan standar seperti penggunaan masker bagi yang sakit, istirahat cukup, dan segera berobat jika demam tak kunjung turun. Akan menjadi kunci utama agar lonjakan kasus rawat inap seperti di AS tidak terjadi di Indonesia. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.