KUKAR
Bukan Sekadar Pajangan, Guru di Kukar Dilatih Maksimalkan Papan Digital
Papan Interaktif Digital (PID) kini mulai banyak ditemukan di sekolah-sekolah Kalimantan Timur. Namun, keberadaan perangkat tersebut belum otomatis membuat proses belajar di kelas menjadi lebih interaktif.
Persoalan itulah yang coba dijawab melalui workshop guru bertajuk From Smart Board to Smart Learning yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program pengabdian kepada masyarakat di Kutai Kartanegara.
Sekitar 120 guru dan kepala sekolah mengikuti pelatihan yang berfokus pada pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Peserta tidak hanya dikenalkan pada fungsi perangkat, tetapi juga didorong mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif dan melibatkan siswa.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Kalimantan Timur, Wiwik Setiawati, mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transformasi pendidikan berbasis teknologi.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan workshop guru yang diadakan oleh teman teman ITB dalam rangka pengabdian masyarakat. Kami juga sangat berterima kasih karena Kalimantan Timur dipilih sebagai salah satu tempat pelaksanaan kegiatan tersebut,” kata Wiwik.
Menurutnya, tantangan setelah perangkat tersedia adalah memastikan guru mampu menggunakannya secara maksimal.
Ribuan Papan Digital Sudah Disalurkan

Wiwik menyebut pemerintah telah menyalurkan sekitar 3.900 unit PID ke sekolah-sekolah di Kalimantan Timur sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 970 unit berada di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setiap sekolah, kata dia, setidaknya mendapatkan satu perangkat. Ke depan, pemerintah juga berencana menambah jumlah PID sehingga sekolah dapat memiliki lebih banyak perangkat pendukung pembelajaran digital.
“Pak Presiden sendiri memang ingin menambah. Tahun 2025 kemarin setiap sekolah mendapatkan minimal satu unit tanpa membedakan sekolah negeri maupun swasta. Kemudian ke depan juga ingin menambah dua unit lagi untuk setiap sekolah,” kata dia.
Namun, banyaknya perangkat yang tersedia belum menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut telah digunakan sesuai potensinya.
Wiwik mengatakan sebagian guru masih menggunakan PID sebatas untuk menampilkan presentasi, mengakses YouTube atau Google, hingga membuat kuis sederhana.
“Yang menjadi tantangan di sekolah adalah apakah PID tersebut dimanfaatkan sesuai yang kita harapkan. Dengan adanya workshop hari ini tentu akan memberikan wawasan dan memperkaya guru guru dalam pemanfaatan PID sehingga bukan hanya menjadi pajangan atau hanya dimanfaatkan untuk kuis,” ujarnya.
Karena itu, workshop ITB dinilai penting untuk memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif. Guru diajak melihat papan digital bukan sekadar pengganti layar proyektor, tetapi sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk membangun interaksi dengan siswa.
“Tadi kita lihat materi yang disampaikan sangat sesuai dengan kebutuhan guru. Semoga dari 120 guru yang mengikuti kegiatan ini semuanya bisa mengimplementasikan dan bahkan menularkannya kepada rekan sejawat sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh peserta didik,” katanya.
Guru dan AI Jadi Bagian Transformasi Pembelajaran
Selain PID, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai masa depan pembelajaran.
Anggota Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengatakan perkembangan AI perlu dilihat sebagai teknologi yang dapat membantu guru dalam menyiapkan proses belajar yang lebih menarik.
“AI sekarang sebenarnya bisa digunakan sebagai asisten guru. Karena AI berkembang begitu pesat, maka kita harus terus meningkatkan dan mengasah keterampilan menggunakannya sebagai asisten dalam proses pembelajaran,” kata Hetifah.
Menurut dia, kekhawatiran terhadap AI selama ini sering dikaitkan dengan persoalan plagiarisme atau menurunnya kemampuan berpikir siswa. Padahal, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membuat materi pembelajaran yang mendorong kreativitas dan partisipasi.
“Padahal justru sebaliknya. AI bisa digunakan untuk menciptakan berbagai konten yang meningkatkan kerja sama, meningkatkan partisipasi, dan membuat pembelajaran lebih interaktif. Guru guru tentu harus menguasai cara menggunakannya sekaligus mengetahui hal hal yang harus dihindari,” ujarnya.
Hetifah juga menilai perkembangan teknologi tidak menghilangkan posisi guru dalam proses pendidikan.
“Guru guru jangan khawatir bahwa fungsinya akan tergantikan oleh AI. Guru yang tidak menggunakan AI tidak akan bisa menyaingi guru yang menggunakan AI. Guru yang menggunakan AI akan lebih disukai oleh anak anak,” katanya.
Ia mengaitkan penguatan kompetensi guru dengan posisi Kutai Kartanegara yang berada di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurutnya, perkembangan IKN sebagai kawasan yang diarahkan menjadi kota cerdas membutuhkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan teknologi.
“Dengan adanya IKN yang akan menjadi smart city, maka Kutai Kartanegara harus memberikan yang terbaik untuk bisa berkontribusi terhadap pengembangan Kalimantan Timur dan IKN,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua pelaksana kegiatan sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Dr. Intan Rizky Mutiaz, menegaskan bahwa teknologi tetap hanya merupakan alat. Guru tetap menjadi faktor penting yang menentukan bagaimana perangkat tersebut memberikan manfaat dalam pembelajaran.
“Smartphone adalah alat, tetapi guru yang membuat teknologi menjadi bermakna untuk pembelajaran. Itulah semangat dari kegiatan pengabdian masyarakat ITB hari ini,” kata Intan.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa asal Kalimantan Timur yang sedang menempuh pendidikan magister di ITB melalui program beasiswa.
Intan menyebut keterlibatan mahasiswa daerah menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi berbagi pengetahuan sekaligus mendorong kontribusi generasi muda terhadap daerah asalnya.
“Saya mengajak mahasiswa saya sebagai agen perubahan. Mereka berasal dari Kalimantan Timur dan ingin berbaur serta berbagi ilmu di daerahnya sendiri. Ini bagian dari semangat memajukan Kalimantan Timur melalui pendidikan,” ujarnya.
Menurut Intan, keberhasilan kegiatan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang hadir. Hal yang lebih penting adalah apakah pengetahuan yang diperoleh benar-benar diterapkan ketika guru kembali ke kelas.
“Mungkin workshop ini hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi satu ide yang dibawa pulang, satu metode baru yang dicoba di kelas, bisa memberikan pengalaman berbeda bagi puluhan bahkan ratusan anak,” ujarnya.
Ia berharap para guru dapat mencoba berbagai pendekatan baru dengan perangkat yang sudah tersedia di sekolah.
“Kami percaya teknologi tidak akan menggantikan guru. Gurulah yang membuat teknologi menjadi berarti bagi anak anak,” katanya.
Melalui workshop tersebut, penggunaan PID diharapkan tidak berhenti pada fungsi sebagai alat presentasi. Perangkat yang sudah tersedia di sekolah dapat dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran yang lebih aktif, kreatif dan partisipatif.
Dengan begitu, investasi teknologi pendidikan tidak hanya menghasilkan perangkat yang terpasang di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan bagi siswa di tengah perkembangan teknologi digital. (Gi/am)
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoSeleksi Dirut MMP Kaltim Dipersoalkan, Batas Usia Maksimal Jadi Sorotan
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoAntrean BBM di Kaltim, Rudy Mas’ud Sebut Masalah Ada di SPBU
-
PARIWARA2 hari agoBreak Time Bareng AEROX, Cara Yamaha Dekatkan AEROX ALPHA dengan Generasi Muda
-
KUKAR2 hari agoPemprov Kaltim Tegaskan Aset SMAN 10 Samarinda Tetap Bisa Digunakan untuk Belajar
-
KUKAR2 hari agoDistanak Kukar Kembangkan Sorgum dan Siapkan Demplot Jelai untuk Diversifikasi Pangan
-
KUKAR2 hari agoJangkauan Program Distanak Kukar Terkendala SDM dan Fiskal
-
EKONOMI DAN PARIWISATA3 hari agoHarga Sawit Kaltim Naik, TBS Umur 10–20 Tahun Tembus Rp3.604 per Kg
-
PARIWARA3 hari agoBAF Friends Festival di Yamaha Sentral Balikpapan, Ada Service dan Ganti Oli Gratis

