Connect with us

INTERNASIONAL

Dubes Iran di Jakarta Beberkan ‘Daftar Dosa’ AS Sejak 1953: Dari Kudeta hingga Sokong Israel

Published

on

Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi membeberkan rentetan campur tangan AS di Iran sejak 1953, mulai dari kudeta, sanksi, hingga dukungan untuk Israel.

Hubungan panas antara Iran dan Amerika Serikat (AS) bukanlah cerita baru. Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, secara blak-blakan membeberkan rentetan “daftar dosa” yang diklaim telah dilakukan Washington terhadap Teheran sejak lebih dari tujuh dekade lalu.

Pernyataan tajam ini disampaikan Boroujerdi dalam sebuah jumpa pers di kediaman resminya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026). Menurutnya, rekam jejak kelam campur tangan AS di Iran sudah dimulai sejak tahun 1953.

Kala itu, AS dituding mendalangi kudeta untuk menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh—pemimpin sah yang dipilih langsung oleh rakyat. Posisi Mosaddegh lantas digantikan oleh rezim Shah Iran yang mendapat sokongan penuh dari Negeri Paman Sam.

Campur tangan ini terus berlanjut hingga dekade 1980-an. “Pada tahun 1980, mereka memberikan dorongan dan bantuan yang maksimal kepada rezim Saddam Hussein untuk melakukan penyerangan terhadap Iran dan delapan tahun perang dipaksakan terhadap negara kami,” tutur Boroujerdi.

Tragedi mematikan lainnya terjadi pada 1988 ketika militer AS menembak jatuh pesawat sipil Iran yang merenggut nyawa 291 penumpangnya. Rentetan penderitaan ini, lanjut Boroujerdi, diperparah dengan dugaan AS yang menjadi sponsor berbagai aksi terorisme di Iran hingga memakan puluhan ribu korban sipil.

“Tentu saja kalau saya ingin menyebutkan satu demi satu, harus saya menjelaskan daftar panjang sepanjang sejarah. Saya hanya menyebutkan beberapa di antaranya,” ucapnya.

Ia juga menuding AS memanipulasi sentimen anti-Islam untuk mengacaukan kawasan. “Dengan memanfaatkan dan menggunakan pendekatan Islamofobia, ia mencoba juga untuk membentuk berbagai kelompok terorisme seperti ISIS, Daesh, di kawasan,” tambahnya.

Sanksi Berat hingga Sabotase Internal

Memasuki era modern, tekanan AS diklaim tidak mengendur. Sejak 2010, berbagai sanksi ekonomi berat dijatuhkan ke Iran. Puncaknya pada 2020, militer AS membunuh seorang jenderal senior Iran yang dikenal sebagai pahlawan anti-ISIS di Irak.

Konflik bersenjata yang memanas belakangan ini juga tak lepas dari peran AS. Boroujerdi menyoroti eskalasi serangan terhadap Iran pada akhir 2024 lalu.

“Dan pada tanggal 26 Oktober 2024, mereka dengan memberikan dorongan kepada rezim Zionis Israel, menyerang situs militer Iran, situs ekonomi, masyarakat sipil, masyarakat tidak berdosa, dan lain sebagainya,” tegasnya.

Serangan pun terus berlanjut. Pada Juni 2025, gempuran selama 12 hari yang didukung persenjataan AS menghantam wilayah Iran, menewaskan sejumlah pejabat senior dan petinggi militer. Bahkan, fasilitas nuklir damai Iran yang berada di bawah pengawasan ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut menjadi sasaran.

Tak hanya serangan fisik dari luar, Boroujerdi menuding AS dan sekutunya aktif mengacaukan Iran dari dalam. Sebelum serangan militer dilancarkan, AS disebut sengaja menciptakan krisis ekonomi untuk memicu gelombang protes warga.

“Dan sebelum melakukan penyerangan terhadap Iran, mereka menciptakan ketidakpuasan ekonomi di negara kami dan menciptakan ketidakpuasan dan masyarakat turun di jalan,” ungkapnya.

Protes damai warga inilah yang kemudian diklaim telah disusupi oleh intelijen asing. “Kemudian mereka membajak aksi damai dari masyarakat. Setelah itu mereka menjalankan proyek menciptakan korban yang maksimal. Tentu agen-agen CIA, agen-agen Mossad berada di tengah-tengah mereka untuk menciptakan korban yang banyak,” pungkas Boroujerdi. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.