Connect with us

GAYA HIDUP

Haid Saat Ramadhan? Ini Deretan Amalan Pendulang Pahala Menurut MUI dan Aturan Qadhanya

Published

on

Catat deretan amalan peraih pahala bagi perempuan haid di bulan Ramadhan. Jangan lupa, cek juga panduan lengkap cara bayar utang puasanya!

Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momentum bagi umat Islam untuk berlomba-lomba mendulang pahala. Namun, bagi kaum perempuan, ada siklus bulanan berupa haid atau menstruasi yang membuat mereka harus menjeda beberapa ibadah wajib, seperti puasa dan shalat.

Meski begitu, bukan berarti perempuan yang sedang haid kehilangan kesempatan untuk memanen pahala di bulan penuh berkah ini. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, membenarkan adanya larangan ibadah tertentu bagi perempuan yang sedang datang bulan.

“Perempuan haid tidak boleh sholat dan puasa serta masuk ke dalam mesjid,” terang Anwar.

Kendati demikian, Anwar menjelaskan ada banyak pintu amal lain yang tetap terbuka lebar dan tak kalah besar pahalanya. Berikut adalah deretan amalan yang bisa dilakukan perempuan haid selama bulan Ramadhan:

  • Menyiapkan Hidangan Berbuka: Menyiapkan makanan untuk orang yang berpuasa memiliki keutamaan yang luar biasa. “Dalam salah satu hadis dikatakan barangsiapa yang memberikan perbukaan kepada orang berpuasa maka dia mendapat pahala sebesar didapat oleh orang berpuasa,” jelas Anwar.
  • Memperbanyak Sedekah: Berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan tetap bisa dilakukan kapan saja tanpa terhalang status kesucian.
  • Berzikir dan Berdoa: Lisan yang senantiasa basah dengan zikir dan doa sangat dianjurkan. “Kemudian, berdoa dan berdzikir,” tambah Anwar.
  • Menuntut Ilmu Agama: Memperdalam pemahaman agama juga dicatat sebagai amalan mulia. “Belajar, apakah dengan guru atau sendiri,” tuturnya.
  • Mendengarkan Murottal Al-Qur’an: Meski dilarang menyentuh dan membaca mushaf secara langsung, perempuan haid tetap diperbolehkan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, misalnya melalui ponsel.

Wajib Bayar Utang Puasa (Qadha)

Bagi perempuan yang meninggalkan puasa karena haid, syariat mewajibkan mereka untuk menggantinya (qadha) di luar bulan Ramadhan. Jumlah hari yang diganti harus dibayar impas, sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan.

Kewajiban ini bersandar pada Surah Al-Baqarah ayat 184 dan berlaku bagi setiap muslimah yang sudah balig. Lantas, bagaimana cara membayarnya?

Merujuk pada hadis riwayat Daruquthni dari Ibnu Umar, qadha puasa Ramadhan sangat fleksibel. Umat Islam diperbolehkan untuk membayarnya secara berturut-turut setiap hari, atau secara terpisah dan acak.

Terkait waktu pelaksanaannya, Anwar sangat menyarankan agar utang puasa ini segera dilunasi. “Mengganti puasa hendaknya dilakukan secepatnya,” tegasnya.

Meski dianjurkan segera, ada hari-hari tertentu di mana umat Islam justru diharamkan untuk berpuasa, salah satunya adalah tepat pada Hari Raya Idulfitri. “Puasa bisa dilaksanakan setelah Idul Fitri,” pungkas Anwar.

Jangan Lupa Niat Qadha

Layaknya puasa wajib lainnya, kunci sahnya puasa qadha ada pada niat yang harus diikrarkan di dalam hati sebelum terbit fajar (waktu subuh). Jika terlewat berniat hingga azan subuh berkumandang, maka puasa pada hari tersebut dianggap tidak sah dan harus diulang di lain hari.

Berikut adalah lafaz niat puasa qadha Ramadhan:

“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta’ala.”

Artinya: Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.