Connect with us

SAMARINDA

Kisah Pelajar SD Samarinda Diusir dari Kelas, Jadi Pelajaran untuk Guru dan Sekolah

Published

on

Kisah Pelajar SD Samarinda Diusir dari Kelas, Jadi Pelajaran untuk Guru dan Sekolah
Wali Kota Samarinda Andi Harun saat memediasi antara pihak sekolah guru dan keluarga Musdalifah. (Dok. istimewa)

Kisah pilu yang menimpa Musdalifah (10), pelajar SD 02 Samarinda Seberang, menggugah dunia pendidikan Benua Etam, khususnya Samarinda.

Bocah kelas 3 SD itu diketahui diusir oleh gurunya dari kelas saat hendak mengikuti ujian. Gara-gara ia tak ikut proses belajar mengajar sebelumnya, selama sekolah daring (online).

LOKER AM GROUP

Belakangan diketahui penyebabnya karena faktor ekonomi keluarga: Musdalifah tak punya gawai (handphone). Membuatnya terpaksa tidak bisa masuk sekolah online selama 6 bulan.

Tapi kini, Musdalifah bisa tenang. Setelah Wali Kota Samarinda, Andi Harun memastikan bocah itu bisa kembali bersekolah.

Andi Harun langsung turun tangan menjadi mediator antara kedua belah pihak, keluarga Musdalifah dan sekolah SD 02 Samarinda Seberang, di rumah Musdalifah, di Jalan Pangeran Bendahara, Gang Pertenunan, RT 02, Kelurahan Tenun, Kecamatan Samarinda Seberang, Senin (6/6/2022).  

Wali Kota menegaskan, persoalan tersebut murni semata-mata hanya kesalahpahaman. “Saya berusaha mencari solusinya dan akhirnya semua berjalan lancar mereka pun saling memaafkan,” ujar Andi Harun.

Baca juga:   Bawa Puluhan Butir Pil Ekstasi, Warga Air Hitam Diringkus Polisi

Andi Harun menjelaskan kronologi peristiwa tersebut bermula. Berawal dari kebijakan pemerintah meliburkan aktivitas sekolah untuk sementara waktu pada tahun 2020.

Setelah masuk sekolah, Musdalifah juga belum masuk sekolah. Menurutnya, memang semua sekolah ada aturan bahwa bagi siswa/siswi, yang tidak masuk beberapa hari, maka ada aturan penegakan disiplin sekolah. Dan kesalahpahaman terjadi di sini.

Saat itu, pihak sekolah mencari tahu keberadaan Musdalifah. Hanya saja, informasinya terputus dari guru wali kelasnya. Sehingga pihak sekolah tidak mengetahui persis secara utuh keadaan Musdalifah tersebut.

Yang ternyata belakangan diketahui bahwa Musdalifah adalah seorang anak yang ditinggal ibunya meninggal dunia. Dan ayahnya sedang menghadapi proses hukum dan di tahan 6 tahun penjara.

Melihat ini, Wali Kota Samarinda Andi Harun memastikan pemkot akan menanggung pendidikan Musdalifah hingga sarjana. Termasuk tiga anak dari Siti Munawaroh, bibi kandung yang menjadi orang tua asuh dari Musdalifah.

“Sedangkan Muhammad Zen Abdi anak tertua ibu Siti Munawaroh saya tawarkan untuk melanjutkan kuliah Insya Allah akan kami bayarkan hingga sampai sarjana,” ujarnya.

Baca juga:   Simpan Ganja di Rumah, Warga Samarinda Ulu Diringkus Polisi

Tak hanya itu, pemkot juga akan merenovasi rumah Siti Munawaroh, yang menurutnya tak layak huni yang di tempati banyak penghuni.

“Saya meminta kepada pak sekda kota Samarinda untuk segera masuk program bedah rumah, mudah mudahan ini bermanfaat buat ibu siti munawarah dan keluarga serta ponakan yang di tanggungnya, dan ini tak mudah menjadi ibu siti munawaroh harus menanggung 3 ponakan dan kedua keluarga Musdalifah,” tuturnya.

Ia juga berterima kasih kepada relawan TRCPP dan RMG Rumah Makan Gratis yang telah memberi perhatian kepada Musdalifah. Sebab dari relawan ini yang pertama kali menemukan Musdalifah menangis di depan sekolah 02 Samarinda Seberang, usai diusir oleh gurunya.

“Atas jaminan pemerintah, Musdalifah akan melanjutkan kembali di sekolah yang lama. Apabila ananda Musdalifah tak nyaman dengan sekolahnya, maka dipersilahkan untuk memilih, tempat sekolah baru baginya. Di mana pun iya memilih sekolah karena hak dari ananda Musdalifah, saya menegaskan sekolahnya ditanggung sampai lulus,” pungkasnya.

Baca juga:   Samarinda Kembali Raih Predikat Madya dalam Penghargaan Kota Layak Anak

Pelajaran Para Guru dan Sekolah Lainnya

Kisah Pelajar SD Samarinda Diusir dari Kelas, Jadi Pelajaran untuk Guru dan Sekolah
Musdalifah (tengah) bersama dengan bibinya dan keluarga di kediamannya. (Dok. istimewa)

Kisah Musdalifah ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi para guru dan sekolah di Samarinda. Para guru diharapkan dapat memberikan teladan dan pendidikan yang baik kepada muridnya.  

Plh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda Suwar menegaskan, kasus ini tidak boleh terjadi lagi ke depannya.

“Alhamdulillah, sekarang masing- masing saling menghargai dan sepakat baikkan. Dan gurunya yang katanya mengusir itu sudah meminta maaf, dan Insya Allah tidak akan terulang kembali,” katanya.  

Ia pun mengimbau kepada pihak sekolah agar menjaga komunikasi yang baik dengan para orang tua muridnya. Sebab, kasus ini bermula dari kurangnya komunikasi kedua belah pihak.

“Dan Kami memastikan Musdalifah harus mendapat kan pendidikan yang terbaik,” pungkasnya. (redaksi)

Ikuti Berita Lainnya di GOOGLE NEWS

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.