Connect with us

EKONOMI DAN PARIWISATA

Melihat Upaya Kaltim Mengejar Target Elektrifikasi: Mimpi Tak Ada Desa Gelap Lagi

Published

on

Seorang warga yang memerbaiki aliran listrik di salah satu desa di Kaltim. (istimewa)
Sebagai daerah penghasil, Kaltim berupaya berdaulat dalam bidang energi. Salah satunya menerangi seluruh wilayah di provinsi ini. Pemprov tengah mengejar target elektrifikasi. Harapan yang sebentar lagi terealisasi. Tak ada desa yang gelap lagi...

***

Pernah dengar guyonan ini: “Daerah penghasil, kok kekurangan listrik ya? Suka mati lampu, masih ada desa-desa listrik hanya malam, jalan-jalan gelap gulita, tak ada lampunya. Pokoknya tak seperti kota-kota besar di Jawa sana! Terang Benderang”.

Ya, begitulah potret provinsi ini sejak dahulu kala. Dikenal kaya, tapi belum merdeka. Provinsi lumbung energi, tapi dirasa “kekurangan energi”. Penilaian itu ingin dibasmi. Oleh Pemprov Kaltim dibawah kepemimpinan Isran Noor dan Hadi Mulyadi. Sebagaimana visinya: mewujudkan Kaltim Berdaulat. Salahsatunya berdaulat dari energi.

Tengah dicanangkan, program elektrifikasi bisa terpenuhi 100 persen pada 2025 mendatang. Rencana jangka panjang tersebut tertuang dalam Pergub Kaltim 8/2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Munawwar menjabarkan. Terdapat lima poin sasaran utama dari implementasi pergub itu. Yang kesemuanya menjadi fokus utama pihaknya menjalankan program tersebut.

Pertama, yaitu, soal Rasio Elektrifikasi (RE) ditargetkan sudah mencapai 100 persen pada tahun 2025 mendatang. Saat ini sudah mencapai angka 92,07 persen. Sasarannya adalah desa yang berada di kawasan perbatasan bisa menerima pasokan energi listrik sampai 600 Watt setiap hari.

Kedua, mempermudah akses masyarakat mendapatkan BBM dan LPG. Soal ini, kata dia, pemprov akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak agar kebutuhan energi tersebut mudah diterima masyarakat. Diantara proyek yang digadang-gadang adalah jaringan gas (jargas) rumah tangga.

Ketiga, terjaminnya ketersediaan listrik untuk kawasan industri di Kaltim.Terkhusus di kawasan industri Kariangau, Bontang dan Maloy. “Untuk kebutuhan listrik di Maloy diperkirakan mencapai 90 MWH,” katanya.

Sasaran berikutnya, dijelaskan, yaitu memaksimalkan pemanfaatan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT). Targetnya bauran EBT sudah mencapai 12,4 persen.

Terakhir, yaitu tercapainya sejumlah indikator energi. Seperti, elastisitas energi 0,45 di tahun 2025, pemakaian energi 13,05 TOE/miliar rupiah tahun 2025, pemakaian energi final per kapita 2,19 TOE tahun 2025. Dan terakhir pemakaian listrik per kapita 2.138 kWh di tahun 2025 (kWh/kapita/tahun).

Baca juga:   5 Hal tentang FUGO Hotel Samarinda yang Perlu Kamu Tahu

Dari semua sasaran tersebut, Munawwar menegaskan, bahwa RUED juga mencakup sejumlah misi. “Salah satunya menjamin ketersediaan energi untuk masyarakat dan meningkatkan akses masyarakat untuk mendapatkan energi dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Masih Ada 199 Desa Butuh Perhatian

Pemprov Kaltim menargetkan elektrifikasi tidak hanya menyentuh perkotaan namun juga seluruh desa di kawasan perbatasan. (istimewa)

Berdasarkan data yang dihimpun media ini, dari 1.038 desa yang ada di Kaltim baru sedikitnya 839 desa yang sudah teraliri listrik PLN. Jika dirasiokan, desa yang merdeka listrik dari PLN baru 80,83 persen.

Artinya, masih ada 199 desa yang membutuhkan perhatian khusus soal pemenuhan listrik. Yaitu 189 desa listrik non PLN dan 13 desa menggunakan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengamini hal itu. Maka, ia menginginkan agar sasaran elektrifikasi adalah desa terpencil. Meski demikian, dari 199 desa yang belum merdeka listrik itu, Hadi menegaskan bahwa desa itu tidak benar-benar gelap atau tidak memiliki aliran listrik. “Sudah berlistrik namun kebanyakan masih memanfaatkan listrik desa,” ucapnya.

Namun Hadi meyakini bahwa listrik desa dengan listrik PLN “beda rasa”. Maka, Pemprov Kaltim juga tengah meminta PLN mendukung percepatan elektrifikasi ke desa-desa tersebut. Diantaranya mendorong agar PLN segera membangun distribusi jaringan listrik sampai ke desa-desa terpencil.

“PLN sedang berusaha melakukan percepatan pembangunan distribusi jaringan sehingga seluruh desa dapat teraliri listrik PLN,” tegas Hadi.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan, untuk menyalurkan listrik ke desa-desa akan dilakukan dengan membangun PLTS komunal. Yaitu PLTS yang dipasang disuatu lokasi, lalu ditransmisikan dan didistribusikan kepada pelanggan. PLTS komunal bisa berdiri sendiri dengan membangun jaringan mandiri yang kemudian didistribusikan ke pelanggan. Atau bisa juga interkoneksi dengan jaringan PLN.

Baca juga:   Buka Pra Musrenbang RKPD Kaltim 2024, Sekda: Kinerja Pemda Terus Meningkat

“Untuk lokasi yang jauh dari jangkauan jaringan PLN, penyediaan listrik akan dipenuhi melalui pembangunan PLTS komunal,” harap Hadi.

Energi Baru Terbarukan Jadi Harapan

PLT Biogas POME, salahsatu energi terbarukan dari limbah cair sawit menjadi listrik. (Dok. Istimewa)

Langkah lain untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat adalah dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT). Potensi yang saat ini bisa dikembangkan adalah POME atau limbah cair kelapa sawit untuk energi terbarukan.

Kadis ESDM Kaltim Munawwar meyakini, EBT akan membantu dalam program “menerangi” desa-desa pelosok di Kaltim. Berdasar data dinas ESDM Kaltim, tujuh daerah saat ini tengah mengembangkan potensi pembangkit listri dari POME ini. Yaitu: Kutim, Kukar, Berau, Kubar, PPU, Paser dan Mahulu.

Daerah-daerah tersebut, memiliki potensi tandan buah sawit (TBS) dan mampu menghasilkan kapasitas pembangkit hingga puluhan megawatt (MW). Yang terbesar adalah di Kutim.

Potensi POME yang dihasilkan 5.015.811,02 meter kubik (M3) dengan kapasitas pembangkit 44,55 MW. Kemudian Kukar dengan jumlah POME 2.224.551,62 meter kuk dan kapasitas 19,76 MW.

“Kami optimistis 2025 mendatang sudah tidak ada daerah di Kaltim yang gelap gulita,” tukas Kadis ESDM Kaltim Munnawar.

Potensi lainnya adalah memanfaatkan tenaga surya atau solar cell. Ini bisa berguna untuk menerangi listrik desa. Untuk kondisi geografis Kaltim, potensi radiasi sinar matahari mencapai 1.000 Wattpeak (Wp) per meter persegi.

Wattpeak adalah nominal watt yang dihasilkan dari panel surya. Pemprov memerkirakan jika tersedia panel surya hingga 20 persen, daya listrik yang didapat bisa 200 Wp per meter persegi.

Karena itu Pemprov Kaltim kini serius membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Tercatat pemprov telah membangun 53 PLTS di sejumlah kabupaten/kota. Seperti di Berau, Bontang, Kubar, Kukar, Kutim, Mahulu, Paser dan PPU.

IKN Terang, Kaltim Benderang

PLN tengah membangun jaringan listrik di kawasan IKN Nusantara. (foto: istimewa)

Selain desa, yang tidak kalah penting adalah penerangan di kawasan ibu kota negara (IKN). Yang secara langsung, Kaltim akan mendapatkan keuntungan dalam memenuhi capaian elektrifikasi provinsi ini.

Baca juga:   Kaltim Target Turunkan Angka Stunting hingga 12,83 Persen di 2024

General Manager PLN UIP Kalbagtim Josua Simanungkalit membeber sejumlah proyeksi kebutuhan listrik dengan adanya IKN. Dengan asumsi pemindahan penduduk sebanyak 1,5 juta jiwa, konsumsi listrik per kapita diperkirakan sebesar 4.000 kWh. Lalu produksi energi listrik sebesar 6.600 GWh, maka proyeksi kebutuhan energi listrik adalah 6.000 GWh. Dengan demikian beban puncak konsumsi listrik senilai 1.196 megawatt (MW).

Sementara berdasar hasil Rencana Penyedia Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL), sampai 2024 mendatang pasokan listrik di Kaltim baru mencapai 691 MW. Masih butuh tambahan 884 MW untuk bisa mencapai beban puncak 1.196 MW. 

Josua juga menelaskan kelistrikan Kaltim dan Kalsel saling interkoneksi. Antara Sistem Barito di Kalsel dengan Sistem Mahakam di Kaltim. “Daya mampu pasok yang dihasilkan adalah sebesar 1.181 megawatt dan beban puncak sebesar 557 megawatt, sementara cadangan daya sebesar 624 megawatt atau Surplus,” bebernya.

PLN juga sudah lakukan roadmap untuk memenuhi kebutuhan listrik di IKN. Konsentrasinya adalah membangun sarana dan prasarana dengan konsep yang sudah disusun. Yakni: Smart (Zero Down Time (ZDT), Distribution Automation System (DAS),Smart Grid (AMI)), Green (Renewable Energy,Less Emission,Electrical Vehicle Charging Station), Beautiful (Underground cable, Futuristic design substation). 

Dari data yang dihimpun tim redaksi, PLN telah melakukan sejumlah kerja sama untuk membangun sumber energi terbarukan. Seperti: kerja sama pembangunan PLTA di Bendungan Lambakan, Long Kali, Paser. Potensi listriknya adalah 20,5 MW.

Nantinya PLN akan mengembangkan power house dan jaringan 20kV ke Long Ikis. Lalu kerja sama pembangunan PLTA di Bendngan Arsari, Sepaku, PPU. Potensi listriknya 20,5 MW. Di sini PLN juga akan mengembangkan power hpuse dan jaringan 20kV ke Sepaku.

Dari sini, wilayah Kaltim khususnya di kawasan penyanggah IKN akan mendapatkan manfaat dari program pemenuhan jangkauan listrik tersebut. “Dan kami PLN siap untuk melistriki Ibu Kota Negara Nusantara,” tegas Josua. (redaksi/ADV DIKOMINFO KALTIM)

Penulis: Bahrunsyah/Muslim Hidayat

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.