EKONOMI DAN PARIWISATA
Mengenal Bubur Peca, Makanan Khas Samarinda Seberang yang Bakal Dipatenkan
Samarinda merupakan daerah urban yang plural. Seperti halnya Kota Balikpapan yang heterogen, berbagai suku di Indonesia bermukim di kota ini. Kondisi ini membuat Kota Samarinda jarang memiliki sesuatu yang khas. Termasuk soal kuliner.
Entah makanan yang mengandung unsur nama Kota Samarinda atau melambangkan Kota Samarinda.
Kalau pun ada yang disebut sebagai makanan khas, sebetulnya belum benar-benar khas. Misalnya saja Nasi Kuning Iwak Haruan, Ayam Bekepor, hingga Amplang, yang kerap diklaim sebagai makanan khas Samarinda.
Belakangan Pemkot Samarinda berencana mematenkan kuliner Bubur Peca menjadi makanan khas. Dan diajukan menjadi warisan budaya. Bagaimana Bubur Peca bisa menjadi makanan khas?
Bubur Peca merupakan makanan khas bulan Ramadan di Masjid Shiratal Mustaqim Samarinda Seberang. Dicetuskan sekitar tahun 60-70an oleh H. Salehuddin Pemma (Pengurus / Takmir Masjid) ketika itu.
Hj. Salma merupakan pemilik resep Bubur Peca generasi pertama, dibantu warga sekitar masjid untuk memasak Bubur Peca bersama-sama sebagai makanan berbuka puasa saat Ramadan tiba.
Masjid Shiratal Mustaqiem termasuk istimewa. Karena merupakan masjid pertama di Ibu Kota Kaltim. Rampung dibangun pada 1881 silam. Dan menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Samarinda.
Disebut sebagai Masjid Tua yang masuk dalam jajaran Top 3 wisata religi di Kaltim bahkan masuk dalam cagar budaya. Keberadaan Bubur Peca tentu menjadi daya tarik tersendiri.
Mulanya Bubur Peca ditujukan mempererat tali silaturahmi antarwarga setempat. Namun seiring berjalannya waktu, kini telah dinikmati masyarakat Kota Samarinda secara luas. Namun sampai saat ini tidak untuk diperjualbelikan.
Bubur Peca khas Samarinda ini merupakan msakan tradisional yang masih berkaitan erat dengan Suku Bugis. Dalam bahasa Bugis sendiri, Peca memiliki arti lembek dan bisa dikatakan nasi lembek.
Pengurus Masjid Shiratal Mustaqiem Ishak Ismail menyebut keberadaan Bubur Peca di Samarinda memang tidak bisa dilepaskan dari Suku Bugis. Sebagai suku awal yang mendiami kawasan Samarinda Seberang.
“Tidak diperjualbelikan juga agar resep aslinya tetap terjaga,” jelasnya kepada Kaltim Faktual belum lama ini.
Keotentikan resep Bubur Peca saat ini tengah berada di generasi ke-3. Yang merupakan cucu dari Hj. Salma, bernama Mardiana. Sekaligus menjabat sebagai ketua juru masak Bubur Peca.
Ismail berharap Pemkot Samarinda bisa membantu agar eksistensi Bubur Peca di Samarinda bisa terus berlanjut dan dikenal generasi muda saat ini tanpa mengubah resep aslinya. (ens/gdc)
-
PARIWARA5 hari agoGas Awal Tahun Nyaman Setahun Penuh, Trik Jitu Yamaha Kaltim Bawa Pulang Nmax Neo atau Aerox Alpha
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoEks Bandara Temindung “Hidup Lagi”, Dispar Kaltim Janjikan Agenda Kreatif Tiap Bulan
-
PARIWARA4 hari agoJadi Kado Spesial di Awal Tahun, Yamaha Resmi Jual Skutik Premium TMAX di Indonesia
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoDrama ‘Prank’ Beasiswa S2 Eksekutif Berakhir, Pemprov Kaltim dan ITK Sepakat Lanjutkan Program Gratispol
-
SAMARINDA4 hari agoAkses Pedalaman Kaltim Terbuka Lagi, Bandara APT Pranoto Operasikan 6 Rute Perintis
-
PARIWARA3 hari ago50 Unit Yamaha TMAX Sold Out dalam Waktu 25 Menit di Program Order Online
-
PARIWARA2 hari agoYamaha YZF-R3/R25 Raih Penghargaan Internasional Prestisius di Jepang
-
KUKAR3 hari agoRefleksi Peristiwa Merah Putih Sanga-Sanga, Seno Aji: Musuh Kita Bukan Lagi Penjajah, Tapi Disrupsi Teknologi

