GAYA HIDUP
Mengupas Sisi Psikologis: Mengapa Semua Orang Tiba-tiba Ingin Jadi “Content Creator”?
Mengapa semua orang ingin jadi content creator? Simak sisi psikologis di balik tren ini, mulai dari kebutuhan validasi ala Maslow, FOMO, hingga bahaya oversharing.
Di era digital saat ini, menjadi content creator bukan lagi mimpi eksklusif para selebritas. Tengok saja lini masa media sosial kamu; mulai dari pelajar, pegawai kantoran, ibu rumah tangga, hingga pensiunan, kini berlomba-lomba memproduksi konten.
Entah itu sekadar membagikan rutinitas harian, tutorial memasak, opini publik, hingga drama kehidupan pribadi yang dikemas sinematik.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya mendorong ledakan kreativitas massal ini? Apakah murni karena keinginan berbagi, atau ada sisi psikologis yang lebih dalam?
Jika melihat lebih dalam, di balik tren ini, terdapat kompleksitas kebutuhan manusia modern akan eksistensi, validasi, dan pencarian jati diri yang berkelindan dengan algoritma media sosial.
Candu Dopamin dan Teori Maslow
Psikolog dunia, Abraham Maslow, pernah mencetuskan teori tentang hierarki kebutuhan manusia, di mana salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Di dunia nyata, pengakuan ini mungkin butuh waktu lama untuk diraih. Namun di dunia maya, semua tersaji instan.
Saat seseorang mengunggah konten dan mendapatkan notifikasi likes, views, atau komentar positif, otak melepaskan hormon dopamin. Zat kimia ini memicu rasa senang dan puas yang adiktif.
Akibatnya, aktivitas membuat konten berubah dari sekadar hobi menjadi mekanisme psikologis untuk merasa “diakui” dan “berharga”.
“Aku Posting, Maka Aku Ada”
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z yang lahir di tengah derasnya arus informasi, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas.
Banyak yang menggunakan platform ini untuk membangun persona online—sosok ideal yang ingin mereka tampilkan ke dunia, entah sebagai traveler, kritikus makanan, atau aktivis.
Psikolog sosial menilai ini sebagai bentuk validasi eksistensi. Mantra lama “Aku berpikir, maka aku ada” kini bergeser menjadi “Aku posting, maka aku ada”.
Namun, bahaya mengintai ketika batas antara realitas dan citra maya semakin kabur, menciptakan tekanan untuk terus tampil sempurna demi mempertahankan engagement.
Jebakan FOMO dan Ilusi Sukses
Dorongan untuk menjadi kreator juga diperkuat oleh tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO). Saat lingkungan sekitar sibuk viral di TikTok atau Instagram, seseorang bisa merasa tidak relevan atau “tertinggal” jika hanya diam.
Belum lagi narasi bahwa menjadi content creator adalah jalan pintas menuju kesuksesan finansial. Ilusi bahwa siapa saja bisa “besar” asal viral, membuat banyak orang terjun ke gelanggang ini tanpa persiapan mental yang matang.
Waspada Bahaya Oversharing
Di sisi lain, keinginan kuat untuk eksis kerap memicu perilaku oversharing—membagikan informasi pribadi secara berlebihan tanpa saringan. Fenomena ini sangat rentan terjadi pada remaja.
Mengacu pada teori perkembangan Havighurst, masa remaja adalah fase krusial pembentukan identitas dan kemandirian emosional. Sayangnya, media sosial kerap mendistorsi proses ini.
Demi validasi, banyak remaja yang rela menukar privasi mereka menjadi konsumsi publik.
Masalah muncul ketika respons publik tidak sesuai harapan. Kritik pedas atau minimnya likes bisa berdampak serius pada kesehatan mental, mulai dari kecemasan, rendah diri, hingga krisis identitas.
Menjadi Kreator yang Waras
Meski begitu, menjadi content creator adalah hak setiap orang untuk berekspresi. Namun, para ahli mengingatkan pentingnya kesadaran diri (self-awareness).
Apakah konten ini dibuat untuk berbagi inspirasi, atau sekadar memuaskan ego sesaat? Di tengah riuh rendah dunia digital, menjaga kewarasan mental dan keaslian diri jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar viralitas.
Dunia tidak membutuhkan konten yang sempurna, melainkan konten yang jujur dan manusiawi. (ens)
-
SAMARINDA5 hari agoRatusan Sopir Truk Demo di Balai Kota Samarinda, Tolak Pembatasan Kupon Biosolar dan Blokir Fuel Card
-
HIBURAN3 hari agoAkhir Pekan di Temindung Creative Hub, 111 Film Pendek Ikut Festival Film Kaltim
-
BALIKPAPAN4 hari agoMulai 1 September, Aturan Baru BBM Subsidi Balikpapan: Mobil Isi Pertalite Pukul 22.00-06.00 WITA
-
KUKAR3 hari agoKarnaval GEAR Ultima Yamaha Meriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-81, Ribuan Warga Bukit Pariaman Antusias
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoAnggaran Dishut Kaltim Sempat Dipangkas 60 Persen, Dikembalikan untuk Tangani Karhutla
-
SAMARINDA18 jam agoMuka Air Turun 20 Sentimeter, Bendungan Lempake Diperkirakan Hanya Bertahan 2 Minggu
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoDebit Sungai Mahakam Menyusut, Air Laut Mulai Masuk tapi Pasokan Air Baku Kaltim Disebut Aman
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoKarhutla Kaltim Meluas, BPBD Akui Sulit Cari Sumber Air untuk Pemadaman

