OLAHRAGA
Borneo FC Tak Lepas Fajar, STY Cari Pengganti
Borneo FC enggan melepas pemain pentingnya, Fajar Fathur Rahman ke Timnas U23. PSSI menerima keputusan itu, STY pun memanggil Titan Agung sebagai penggantinya.
Fajar Fathur Rahman adalah talenta muda paling menjanjikan di Borneo FC Samarinda. Musim ini ia berstatus sebagai pemain utama. Pemain 21 tahun itu menunjukkan dia punya nilai lebih, dari sekadar pengisi slot pemain U23 di starting eleven.
Fajar nyaris tak tersentuh. Pieter sampai-sampai menjadikan duo bek kanan; Diego Michiels dan Rizky Dwi bermain di posisi bek kiri. Menggeser Leo Guntara dan Abdul Rachman.
Maka saat Shin Tae-yong memanggil Fajar, bersama Komang Teguh dan Daffa Fasya. Klub Samarinda enggan melepasnya.
Borneo FC belum memberi keterangan resmi soal ini. Namun dalam laman PSSI, disebutkan bahwa STY telah mengganti posisi Fajar dengan penyerang Bhayangkara FC, Titan Agung.
“Pelatih Shin Tae-yong memanggil Titan Agung Bagus (Bhayangkara Presisi FC) untuk menggantikan Muhammad Fajar Fathur Rahman (Borneo FC).”
“Tim U-23 Indonesia akan memulai latihan perdana pada Kamis (10/8) di lapangan A, Senayan, Jakarta. Pemusatan latihan (TC) Garuda Muda sebagai persiapan mengikuti Piala AFF U-23 2023.”
“Piala AFF U-23 2023 akan berlangsung di Thailand pada 17-26 Agustus. Indonesia berada di Grup B bersama Timor Leste, dan Malaysia.” Demikian bunyi pernyataan PSSI.
Pelatih Borneo FC Sempat Sewot
Usai laga Persija Jakarta vs Borneo FC, Pieter Huistra mendapat pertanyaan soal potensi melepas 3 pemainnya ke Timnas U23. Reaksi pelatih asal Belanda pun cukup tegas. Dia heran, kok bisa sih, ada turnamen antar-negara saat liga sedang berjalan.
“Menurut saya turnamen ini sangat disayangkan karena diadakan di tengah kompetisi berlangsung.”
“Di setiap negara yang menghargai sepak bola, liga utama dalam kompetisi seharusnya menjadi yang utama. Tentu saja timnas senior sangatlah penting. Tapi, di Liga 1 semua pemain berkembang.”
“Kamu mempunyai pemain di dalam tim ini. Saya paham AFF adalah kesempatan bagi sepak bola Indonesia untuk memenangkan sesuatu. Tapi, saya harap ke depannya situasi ini bisa dipisahkan.”
“Jika kamu berpikir ini sangat penting. Maka jangan gelar kompetisi. Itu opini saya. Jadi, semua orang bisa berpikir mengenai ini. Saya pikir Liga 1 sama seperti Premier League di Inggris. LaLiga di Spanyol dan Era Divisie di Belanda. Ini seperti di setiap negara sepakbola. Liga 1 tentu menjadi yang paling penting,” ujar Pieter. (dra)
-
PARIWARA4 hari agoGas Awal Tahun Nyaman Setahun Penuh, Trik Jitu Yamaha Kaltim Bawa Pulang Nmax Neo atau Aerox Alpha
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoEks Bandara Temindung “Hidup Lagi”, Dispar Kaltim Janjikan Agenda Kreatif Tiap Bulan
-
PARIWARA4 hari agoJadi Kado Spesial di Awal Tahun, Yamaha Resmi Jual Skutik Premium TMAX di Indonesia
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoDrama ‘Prank’ Beasiswa S2 Eksekutif Berakhir, Pemprov Kaltim dan ITK Sepakat Lanjutkan Program Gratispol
-
PARIWARA2 hari ago50 Unit Yamaha TMAX Sold Out dalam Waktu 25 Menit di Program Order Online
-
SAMARINDA4 hari agoAkses Pedalaman Kaltim Terbuka Lagi, Bandara APT Pranoto Operasikan 6 Rute Perintis
-
PARIWARA2 hari agoYamaha YZF-R3/R25 Raih Penghargaan Internasional Prestisius di Jepang
-
KUKAR3 hari agoRefleksi Peristiwa Merah Putih Sanga-Sanga, Seno Aji: Musuh Kita Bukan Lagi Penjajah, Tapi Disrupsi Teknologi

