KOLOM REDAKSI
Selamat Ulang Tahun PPU, Daerah yang Lebih Terkenal Ketimbang Samarinda dan Balikpapan
Pada sesi liburan ke Pulau Jawa dua bulan sebelum Covid-19 datang. Saya terheran-heran, kok banyak orang di sana yang tidak tahu Kota Samarinda dan Balikpapan. Tapi kalau PPU, banyak yang tahu!
Saat kelas 4 SD, di sebuah sekolah di Penajam Paser Utara. Yang bangunannya adalah bekas gudang pupuk. Saya sudah hapal nama-nama ibu kota provinsi se-Indonesia. Selain karena sudah diajarkan dalam mata pelajaran IPS. Menghapalnya menjadi sangat penting, karena saban pulang. Guru kami selalu mengadakan kuis cepat. Yang bisa jawab pertanyaannya, boleh pulang duluan. Pertanyaannya itu, kalau tidak nama-nama ibu kota, ya perkalian.
Waktu berlalu, yang saya tahu, teman-teman sekolah SMP hingga SMA. Cukup tahu letak kota apa di provinsi mana. Ya meski referensi soal tempat-tempat yang ada dalam pelajaran Geografi itu beda-beda. Tapi minimal cukup tahu.
Belum lagi dalam keseharian, di mana Kaltim dihuni mayoritas suku pendatang. Banyak obrolan warganya yang saling menanyakan daerah asal, apa yang khas dan menarik di wilayah asalnya.
Maka kesimpulan yang saya dapatkan, mengetahui kota-kota di Indonesia itu adalah hal yang normal. Dan semua orang di Nusantara melakukannya.
Ternyata tidak.
Kaltim Tak Seterkenal Itu
Sejak menghimpun fans Manchester United dari seluruh wilayah Indonesia di sebuah WhatsApp Group sejak 2018. Saya mulai menyadari, ternyata Kota Samarinda tidak seterkenal itu.
Yang mayoritas teman-teman di grup itu ketahui tentang Kaltim, adalah mitos-mitos suku Dayak. Sebagian benar, sebagian mitos yang dilebih-lebihkan. Ibu kota Kaltim? Kota-kota di Kaltim? Kebanyakan dari mereka tidak tahu. Adat istiadat dan kebudayaan Bumi Etam? Makinnya tidak tahu. Ya Allah.
Saya mulai meragukan pengetahuan umum dari pulau yang paling maju di Tanah Air. Tentang daerah lain di luar tempat mereka tinggal.
Suatu saat di akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, saya, keluarga, dan beberapa teman berlibur ke Yogyakarta. Menghabiskan waktu lebih dari 1 minggu. Menikmati kota yang sangat indah dan istimewa.
Ada banyak hal menyenangkan, dan sedikit yang bikin heran. Setiap kali menumpang taksi online, saya mengobrol dengan driver-nya. Seperti biasa, obrolan, “Masnya dari mana?” Selalu jadi topik favorit.
“Saya dari Samarinda.” Hening sesaat.
“Mas tahu Samarinda di mana?”
“Enggak.”
Loh? Samarinda yang usianya sudah 3,5 abad, kota dengan jumlah penduduk terbanyak di Pulau Kalimantan yang dihuni 3 negara. Serta, ini ibu kota Kaltim. Kalau pernah belajar Geografi kan, harusnya tahu kota ini di mana kan?
“Kaltim, Mas. Dekatnya Balikpapan.”
“Mas tahu Balikpapan?” “Enggak.”
Loh, heh? Kota yang sempat puluhan tahun jadi pintu gerbang Kaltim itu tak banyak mereka ketahui? Kok bisa?
Saya yang suka sepak bola, berpikir harusnya dua kota ini tak sulit dikenali. Samarinda pernah punya Persisam dan kini Borneo FC. Balikpapan sempat diwakili Persiba di kasta tertinggi.
Baiklah-baiklah, memang tak semua orang suka sepak bola.
“Kalau PPU tahu, Mas?”
“Oooh, tahu. Yang IKN itu kan?” Jlebb.
Percakapan itu acap terjadi di taksi online. Ada sekitar 10 kali menggunakan taksi berbeda, akhirnya menemukan 1 driver yang tahu Samarinda.
“Saya dulu pernah kerja di Samarinda, Mas.” Ooooooh.
Dari perjalanan ini, saya tak terlalu meng-hilight ketidaktahuan warga Pulau Jawa tentang Kaltim. Tapi hanya hal lucu, bahwa PPU yang merupakan kabupaten kecil dan termuda kedua di Bumi Etam. Ternyata lebih diketahui oleh orang luar.
Mau Jadi Apa PPU?
Pada akhirnya PPU telah menjadi perbincangan sejak 2019 lalu. Ketika presiden menetapkan Sepaku sebagai kawasan inti IKN. PPU sangat membantu pemindahan ibu kota ini. Kalau kelak banyak hal baik untuk Kaltim datang karena IKN. Semua kabupaten/kota mesti berterima kasih kepada PPU yang telah mengorbankan 1 kecamatannya untuk IKN.
Namun pertanyaannya, PPU sendiri mau jadi apa setelah melepas Sepaku? Dengan highlight besar dari seluruh Indonesia. Dan jarak yang dekat dari pusat IKN. Daerah ini mau jadi apa?
Ibarat kertas, PPU saat ini masih cukup bersih. Maksudnya, potensi daerah ini banyak. Pertanian, perdagangan, kelautan, pariwisata, seni, dan lainnya, ada. Namun belum ada yang benar-benar mengemuka dan menjadi andalan di masa depan.
Bupati dan masyarakat PPU saat ini dan beberapa tahun mendatang. Punya tantangan untuk menulis sesuatu untuk kertas itu. Menulisnya, harus segera. Karena waktu tak akan menunggu yang terlambat.
HUT yang ke-22 tahun ini seyogyanya tak hanya dikenang karena kehadiran Cakra Khan saja. Tapi sebagai pengingat, di tahun IKN akan resmi berpindah, daerah ini sudah melaju sejauh apa? Dan sedang berprogres untuk tujuan apa? (dra)
Penulis adalah reporter Kaltim Faktual, Ahmad A. Arifin.
-
MAHULU4 hari agoBuka Isolasi Mahulu, Pembangunan Bandara Ujoh Bilang Sudah 89 Persen Ditargetkan Beroperasi Februari 2026
-
EKONOMI DAN PARIWISATA5 hari agoMembaca Arah Pariwisata 2026: Dimotori Gen Z, Ini 6 Tren Wisata yang Bakal Mendominasi
-
SAMARINDA4 hari agoMinggu Malam, Ustaz Das’ad Latif Bakal Isi Tabligh Akbar di Penutupan Pekan Raya Kaltim 2026
-
GAYA HIDUP5 hari agoKaltim Diprediksi Hujan Berangin Pekan ini, Berikut Tips Jaga Kesehatan Wajib
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoPemprov Kaltim Kebut Cetak Sawah 20 Ribu Hektare, Targetkan Swasembada Pangan Mandiri pada 2026
-
NUSANTARA5 hari agoMemasuki 2026, Otorita IKN Tegaskan Arah Nusantara sebagai Ibu Kota Politik 2028
-
HIBURAN4 hari agoLomba, Pameran, hingga Tabligh Akbar, Berikut Rangkaian Keseruan Pekan Raya Kaltim Gratis!
-
SAMARINDA4 hari agoPenumpang Melonjak, Bandara APT Pranoto Ajukan Perluasan “Area Safety” di Sisi Runway

