Connect with us

GAYA HIDUP

Menilik Tren Belanja Ramadan, Pakaian Active Wear Muslim Lampaui Penjualan Busana Konvensional

Published

on

Tren belanja busana muslim jelang Ramadan di platform belanja daring melonjak. Penjualan baju olahraga muslim cetak rekor, naik hingga empat kali lipat.

Menjelang bulan suci Ramadan, tren belanja pakaian muslim di platform belanja daring menunjukkan pergeseran kebiasaan konsumen yang menarik.

Permintaan terhadap busana tertutup tidak lagi sekadar didominasi oleh pakaian ibadah konvensional, melainkan merambah kuat ke kategori gaya hidup aktif. Secara mengejutkan, pakaian olahraga muslim justru mencatatkan lonjakan penjualan paling tinggi.

Pimpinan Kategori Kebutuhan Harian dan Gaya Hidup Blibli, Krisantia Nugraha, memaparkan bahwa peningkatan transaksi terjadi di hampir semua kategori busana muslim, baik untuk pria, wanita, maupun anak-anak. Namun, persentase lonjakannya sangat bervariasi pada setiap segmen.

Pakaian Olahraga

Di luar kebiasaan belanja busana khas Ramadan, kategori pakaian olahraga muslim mencetak rekor pertumbuhan. Lonjakannya menembus empat kali lipat, melampaui penjualan baju koko maupun gamis.

“Data yang lebih menarik yaitu pakaian olahraga muslim justru meningkat cukup banyak, yaitu empat kali lipat lebih banyak, bahkan dibandingkan baju Ramadhan sendiri,” tutur Krisantia dalam taklimat media di Jakarta Pusat, Rabu (12/2/2026).

Tren ini dinilai sebagai cerminan perubahan gaya hidup konsumen yang semakin sadar akan pentingnya menjaga kebugaran fisik walau sedang berpuasa.

“Berarti banyak para konsumen kami yang ingin tetap aktif dan sehat dengan berolahraga meski berpuasa di bulan Ramadan,” jelasnya.

Secara demografi, pembeli kategori pakaian olahraga ini mayoritas didominasi oleh perempuan pada rentang usia 18 hingga 45 tahun.

Pola Belanja Laki-Laki Lebih Agresif

Bergeser ke busana muslim reguler, data menunjukkan perilaku belanja yang cukup kontras antara konsumen laki-laki dan perempuan. Penjualan busana muslim pria melonjak hingga 2,5 kali lipat. Sementara itu, lonjakan paling tajam justru terjadi pada kategori baju muslim anak laki-laki yang melesat hingga tiga kali lipat.

“Sementara itu, baju muslim anak laki-laki naik tiga kali lipat dibandingkan biasanya. Data ini unik karena ternyata kelompok laki-laki punya peningkatan yang drastis,” ungkap Krisantia.

Tingginya angka ini disinyalir karena konsumen laki-laki cenderung jarang berbelanja pakaian di hari biasa, sehingga mereka menjadikan momen Ramadan sebagai waktu utama untuk memborong baju baru.

Di sisi lain, penjualan atasan muslim perempuan memang naik dua kali lipat, namun pertumbuhannya terbilang paling landai dibandingkan segmen laki-laki maupun anak-anak.

“Kami melihat untuk masing-masing tipe pakaian adanya peningkatan penjualan jelang Ramadan. Untuk atasan muslim wanita itu ada peningkatan sebanyak dua kali lipat,” paparnya.

Krisantia menilai hal tersebut wajar mengingat konsumen perempuan memiliki rutinitas berbelanja yang stabil sepanjang tahun.

“Hal ini artinya bahwa perempuan itu sudah biasa belanja sehari-hari, sehingga pada saat Ramadhan peningkatannya tidak terlalu signifikan,” tambahnya.

Secara keseluruhan, kendati rentang usia pembeli cukup beragam, tingginya pergerakan tren belanja busana menjelang Ramadan tahun ini banyak digerakkan oleh kelompok Generasi Z yang kian masif memanfaatkan aplikasi belanja daring. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.