Connect with us

GAYA HIDUP

Stop Buka Puasa Pakai Es Manis dan Gorengan! Ini Risiko Medisnya

Published

on

Langsung menyantap gorengan dan minuman manis saat berbuka puasa dapat membebani pankreas. Ketahui risiko medis dan daftar makanan alternatif yang lebih sehat.

Setelah menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 12 jam, keinginan untuk menyantap hidangan manis dan gurih seperti es teh, kolak, cendol, hingga aneka gorengan kerap mendominasi menu berbuka puasa.

Meski terasa nikmat dan cepat menghilangkan dahaga, kebiasaan langsung mengonsumsi jenis makanan tersebut justru membawa dampak buruk bagi kesehatan tubuh jangka panjang.

Kondisi lambung yang kosong setelah seharian berpuasa membutuhkan pemulihan energi yang tepat dan bertahap. Asupan gizi yang masuk secara mendadak dengan kadar gula dan lemak tinggi akan memberikan beban ekstra pada organ pencernaan dan sistem metabolisme.

Ancaman Kalori dan Lemak Trans pada Gorengan

Gorengan seperti bakwan, tahu isi, hingga pisang goreng memang menggunakan bahan dasar yang menyehatkan. Namun, metode menggoreng deep frying (merendam dalam minyak panas) dengan lapisan tepung mengubah komposisi nutrisinya secara drastis, meningkatkan kadar kalori dan lemak trans secara signifikan.

Sebagai gambaran, berikut adalah perkiraan kandungan nutrisi per potong pada beberapa jenis gorengan:

  • Bakwan: 137 kalori dan 12 gram lemak.
  • Tahu Isi: 135 kalori dan 7 gram lemak.
  • Tempe Goreng Tepung: 72 kalori dan 4 gram lemak.
  • Pisang Goreng: 68 kalori dan 4 gram lemak.
  • Singkong Goreng: 40 kalori dan 2 gram lemak.

Rata-rata kebutuhan kalori harian orang dewasa berada di kisaran 2.100 kalori. Hanya dengan mengonsumsi lima potong bakwan saat berbuka, tubuh sudah menerima lebih dari seperempat kebutuhan kalori harian, belum termasuk hidangan utama.

Asupan kalori berlebih dan penumpukan lemak jenuh ini berisiko tinggi memicu obesitas, kolesterol, hingga penyakit jantung.

Beban Berat Pankreas Akibat Lonjakan Gula Darah

Selain makanan berlemak, minuman bersirup atau terlampau manis juga menyimpan risiko kesehatan. Mengembalikan kadar gula tubuh yang turun selama berpuasa memang diperlukan, tetapi asupan gula berlebih dari es buah atau teh manis akan membuat glukosa darah melonjak tajam dalam waktu singkat (sugar spike).

Lonjakan ini memaksa organ pankreas bekerja jauh lebih keras untuk memproduksi insulin guna menyerap gula ke dalam sel. Jika tubuh terus-menerus menerima beban ini selama sebulan penuh, risiko terjadinya resistensi insulin yang berujung pada diabetes tipe 2 akan semakin besar.

Pada dasarnya, untuk membatalkan puasa, tubuh hanya membutuhkan sekitar 100 hingga 200 kalori awal sebelum masuk ke hidangan utama. Kebutuhan ini sudah bisa terpenuhi melalui segelas air putih dan dua butir kurma (sekitar 200 kalori) atau segelas teh dengan dua sendok teh gula pasir (sekitar 120 kalori).

Pilihan Alternatif yang Aman dan Mengenyangkan

Untuk menjaga keseimbangan metabolisme tanpa mengorbankan rasa kenyang, tubuh membutuhkan asupan yang lebih mudah dicerna dan tidak memicu lonjakan glukosa secara ekstrem. Berikut adalah beberapa pilihan alternatif yang aman dikonsumsi saat berbuka:

  • Karbohidrat Kompleks: Singkong rebus, jagung rebus, kacang kulit, pisang rebus, hingga kentang rebus. Karbohidrat kompleks diubah menjadi gula secara perlahan, sehingga energi tubuh pulih secara bertahap tanpa mengejutkan pankreas.
  • Kurma dan Buah-buahan Lembut: Kurma kaya akan kalium untuk fungsi saraf dan otot. Buah dengan tekstur lembut seperti pepaya dan pisang sangat mudah dicerna usus. Sebaliknya, hindari buah dengan tingkat keasaman tinggi saat perut kosong untuk mencegah nyeri lambung.
  • Smoothies: Minuman campuran buah dan sayur segar memberikan nutrisi padat dengan serat yang sudah terurai, sehingga lebih ramah di lambung.
  • Sup Ringan atau Bubur Kacang Hijau: Kacang hijau sangat kaya akan protein nabati, zat besi, dan serat. Jika ingin mengonsumsi kolak, pastikan porsinya terbatas dan kuah santannya dibuat encer agar tidak membebani asam lambung.
  • Telur Rebus: Sumber protein padat yang menutrisi tubuh dengan cepat tanpa kandungan lemak jahat.

Mengonsumsi gorengan atau minuman manis saat berbuka sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang. Hal terpenting adalah membatasi porsinya, misalnya cukup satu potong gorengan, dan memastikan hidangan utama tetap didominasi oleh nutrisi seimbang serta asupan cairan yang memadai. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.