Connect with us

HIBURAN

Ovan Anggono Rilis JAGA BARA, Berawal dari Sample Kaset Oasis

Published

on

Siapa sangka, sebuah kaset pita album Oasis yang diputar di minikompo bisa menjadi titik awal lahirnya sebuah lagu hip hop. Dari rekaman sederhana menggunakan telepon pintar, rapper asal Samarinda, Ovan Anggono, meramu ide yang kemudian berkembang menjadi single berjudul JAGA BARA.

Lagu tersebut resmi dirilis pada 1 Oktober 2026. Dalam karya ini, Ovan berkolaborasi dengan Dimo XX91, rapper asal Pulau Sumba yang kini berdomisili di Bali. Keduanya memiliki keterhubungan dengan komunitas Forum HipHopIndo.net.

Cerita di balik JAGA BARA bermula saat Ovan berkunjung ke sekretariat Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (GEMPA) UINSI Samarinda untuk menemui kawannya, Jack, yang saat itu masih berkuliah di UIN.

Di sekretariat tersebut, terdapat minikompo dan sejumlah kaset pita. Salah satunya album Oasis yang menarik perhatian Ovan. Ketika kaset diputar, lagu Fade In-Out menjadi suara pertama yang terdengar.

Alih-alih sekadar menikmati musik, Ovan justru menangkap potensi dari suara yang keluar melalui speaker minikompo itu. Ia kemudian merekamnya menggunakan telepon pintar dalam format WAV.

Rekaman spontan tersebut menjadi bahan awal produksi JAGA BARA. Intro Fade In-Out diolah menjadi sample untuk membangun fondasi beat dengan pendekatan boom bap, gaya hip hop yang lekat dengan permainan drum dan karakter ritme klasik.

Dari perangkat sederhana dan sebuah kaset pita, proses kreatif itu berkembang menjadi karya musik yang membawa cerita lebih luas. Bagi Ovan, JAGA BARA bukan sekadar permainan sample, melainkan ruang untuk menyampaikan pemikiran tentang penghormatan, identitas, dan perjalanan mempertahankan sesuatu yang diyakini masih berarti.

Dari Kaset Oasis ke JAGA BARA, Ada Cerita tentang Identitas dan Penghormatan

Salah satu gagasan yang menonjol dalam JAGA BARA adalah penghormatan kepada orang lain yang harus dimulai dari kesediaan untuk memberikan penghormatan itu sendiri.

Ovan menerjemahkan gagasan tersebut melalui simbol bandana. Jika dalam budaya Barat penghormatan kerap dianalogikan dengan ungkapan mengangkat topi, ia memilih pendekatan yang lebih dekat dengan kultur roda dua dan kehidupan jalanan di Kalimantan: mengangkat bandana.

Benda yang lekat dengan debu, panas, dan perjalanan di jalan beraspal itu memiliki fungsi praktis untuk melindungi wajah. Dalam situasi tertentu, bandana juga bisa digunakan untuk menyamarkan identitas pemakainya.

Namun, dalam gagasan yang dibawa Ovan, melepas bandana menjadi simbol keberanian untuk memperlihatkan wajah dan identitas diri ketika berhadapan dengan orang lain.

Pesannya sederhana, tetapi memiliki makna lebih dalam. Menghormati orang lain bukan hanya soal gestur atau ucapan, melainkan juga kesediaan untuk hadir secara terbuka tanpa terus bersembunyi di balik sesuatu.

Simbol tersebut kemudian menjadi bagian dari hook JAGA BARA, menghubungkan kultur yang dekat dengan keseharian Ovan dengan pesan mengenai penghormatan dan keterbukaan.

Selain identitas, judul lagu ini juga berbicara tentang bara kecil yang masih dijaga di dalam diri seseorang. Bara itu bukan api besar yang langsung menerangi atau menghangatkan banyak orang. Ia lebih menyerupai sisa panas yang dipertahankan agar tidak padam, sembari menunggu momentum untuk kembali menyala.

Bagi Ovan, menjaga bara dapat dimaknai sebagai upaya mempertahankan sesuatu yang dianggap penting, meskipun belum menghasilkan perubahan besar. Sesuatu yang masih hidup hari ini bisa saja menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar pada masa mendatang.

Perjalanan Sama Rendah dan Kolaborasi yang Mempertemukan Kembali Kawan Lama

Makna menjaga bara juga berkaitan dengan perjalanan Ovan bersama Sama Rendah, sebuah pergerakan yang dibentuknya pada 2013.

Setelah bertahun-tahun berjalan, kelompok tersebut melewati berbagai fase pertumbuhan dan perubahan. Pengalaman itu menjadi bagian dari perenungan Ovan mengenai keberlanjutan sebuah gerakan, termasuk mempertanyakan hal-hal yang masih menyala dan layak dipertahankan.

Pergulatan tersebut turut hadir dalam verse JAGA BARA. Pertanyaan mengenai eksistensi bukan hanya ditempatkan sebagai persoalan kelompok, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan personal dalam melihat kembali arti sebuah perjuangan setelah melewati waktu yang panjang.

Di sisi lain, kolaborasi dengan Dimo XX91 menghadirkan pertemuan kembali dua musisi yang pernah berada dalam lingkaran komunitas hip hop yang sama. Meski kini berdomisili di wilayah berbeda, keduanya kembali terhubung melalui sebuah rilisan yang berangkat dari proses kreatif berbasis sample.

Ovan sendiri dikenal sebagai rapper, produser musik, sekaligus penulis lirik untuk musisi lain atau ghostwriter. Ia lahir di Cilacap pada 13 Oktober dan memandang rap sebagai medium untuk menyampaikan pemikiran subjektif yang menurutnya layak dibagikan sekaligus didiskusikan.

Dalam karya-karyanya, Ovan cenderung mengeksplorasi makna berlapis, tempo lambat, dan karakter boom bap. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari cara ia menyusun lirik sekaligus membangun atmosfer musik.

Lewat JAGA BARA, Ovan mempertemukan suara dari kaset analog dengan produksi musik digital, lalu mengisinya dengan refleksi tentang identitas, penghormatan, persahabatan, dan perjalanan kolektif.

Berawal dari sebuah kaset Oasis yang diputar di sekretariat mahasiswa, lagu ini menjadi pengingat bahwa sebuah karya tidak selalu lahir dari proses produksi yang rumit. Terkadang, ide justru muncul dari pertemuan sederhana, pengalaman yang melekat, dan bara kreativitas yang terus dijaga agar tidak padam. (Gi/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER