KUKAR
One Village One Product, One District One Industry Jadi Strategi Kemandirian Ekonomi Desa Kukar


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal melalui pendekatan One Village One Product (OVOP) dan One District One Industry (ODOP). Strategi ini diarahkan agar setiap desa mampu mengembangkan produk unggulan, sementara setiap kecamatan memiliki sektor industri yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menilai, desa perlu memiliki sumber pendapatan yang tumbuh dari potensi dan aktivitas ekonomi masyarakatnya sendiri. Pengembangan produk unggulan dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat usaha lokal, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).
“Setiap desa harus mulai melihat apa potensi unggulannya. Potensi itu yang kemudian kita dorong supaya bisa menjadi produk bernilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Aulia, Rabu (28/10/2026)
Menurutnya, pendekatan OVOP memungkinkan desa mengembangkan produk sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Produk dapat berasal dari berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kerajinan, olahan pangan, maupun potensi lain yang mempunyai peluang pasar.
Aulia menekankan, pengembangan produk unggulan tidak cukup berhenti pada produksi. Pemerintah juga perlu mendorong peningkatan kualitas, pengemasan, pemasaran, dan akses distribusi agar produk desa mampu bersaing serta memiliki nilai jual yang lebih baik.
“Jangan hanya menghasilkan produk, kemudian kita kesulitan memasarkannya. Kita harus memikirkan bagaimana produk itu bisa diolah, dikemas, dipasarkan, dan memiliki nilai tambah,” katanya.
Di sisi lain, pendekatan ODOP diarahkan untuk membangun keterkaitan ekonomi di tingkat kecamatan. Jika desa memiliki produk unggulan, kecamatan dapat mengembangkan industri yang mengolah atau mendukung produksi tersebut sehingga rantai ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
Menurut Aulia, pengembangan industri berbasis potensi lokal dapat memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perputaran ekonomi di daerah. Kegiatan produksi, pengolahan, hingga pemasaran diharapkan mampu menciptakan hubungan usaha yang saling mendukung antara desa dan kecamatan.
“Kalau desa punya produk unggulan, kecamatan juga harus bisa melihat industri apa yang cocok dikembangkan. Jadi, ada hubungan antara potensi yang dihasilkan desa dengan kegiatan industri di wilayah kecamatan,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan pendapatan asli desa sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian pemerintahan desa. Desa yang memiliki kegiatan usaha produktif diharapkan tidak hanya bergantung pada transfer anggaran, tetapi juga mampu membangun sumber pendapatan melalui pengelolaan potensi ekonomi secara berkelanjutan.
Dalam gambaran pengembangan ekonomi desa, Aulia menyinggung potensi pendapatan hingga Rp2 miliar per desa. Angka tersebut perlu dipahami sebagai ilustrasi peluang yang ingin didorong, bukan capaian pendapatan yang telah terealisasi atau target resmi yang berlaku seragam bagi seluruh desa.
“Bayangkan kalau desa mampu mengembangkan potensi ekonominya sendiri dan menghasilkan pendapatan yang besar. Itu akan membuka ruang bagi desa untuk membiayai lebih banyak kebutuhan pembangunan masyarakat,” ujarnya.
Aulia menilai, penguatan ekonomi desa juga perlu disinergikan dengan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih. Koperasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari mendukung kebutuhan produksi hingga membantu pemasaran produk lokal.
“Potensi desa, produk unggulan, dan koperasi harus bisa saling mendukung. Kita ingin kegiatan ekonomi masyarakat semakin terorganisasi dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” katanya.
Meski demikian, penerapan OVOP dan ODOP membutuhkan pemetaan potensi serta kesiapan pelaku usaha di setiap wilayah. Pemerintah perlu memastikan produk yang dikembangkan memiliki pasar, proses produksinya dapat berlangsung secara konsisten, dan kelembagaan ekonomi lokal mampu mengelolanya.
Aulia berharap, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ekonomi Kukar dari tingkat desa. Dengan menghubungkan produk unggulan, industri kecamatan, dan kelembagaan ekonomi masyarakat, potensi lokal diharapkan berkembang menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.
“Intinya, kita ingin desa memiliki kekuatan ekonomi sendiri. Potensi yang ada jangan hanya menjadi potensi, tetapi harus dikembangkan menjadi usaha produktif yang memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (rk/Adv Diskominfo Kukar)

GAYA HIDUP5 hari agoEkonomi Lagi Sulit? Ini 9 Cara Healing Murah Meriah Tanpa Bikin Dompet Menjerit
POLITIK5 hari agoWagub Seno Aji Minta Maaf ke Prabowo Usai Absen Rakornas, Pilih Tangani Karhutla Kaltim
SAMARINDA3 hari agoPolresta Samarinda Amankan 37 Orang Dugaan Pencurian Kabel Bermodus Penggalian Jalan
SEPUTAR KALTIM3 hari agoKarhutla Kaltim Mulai Menurun, Apakah Ancaman Asap dan Kekeringan Sudah Berakhir?
SAMARINDA4 hari agoLebih dari 60 Titik Galian Ditemukan di Samarinda, Dugaan Pencurian Kabel Bikin Wali Kota Turun Tangan
BALIKPAPAN5 hari agoPadel Makin Dilirik di Balikpapan, Berapa Biaya Main dan Bagaimana Cara Memulainya?
BALIKPAPAN3 hari agoPasokan Air Bersih Balikpapan Terbatas, Ini Cara Mengatur Kebutuhan Air di Rumah
PARIWARA1 hari agoWarga Samarinda Beli Yamaha NMAX, Malah Bawa Pulang Fazzio Gratis






