Connect with us

BERITA

Kesadaran Diri Melalui Bencana Alam

Published

on

Reruntuhan bangunan akibat gempa dan tsunami di Palu. (Foto: Hariandi Hafid/SOPA/Zuma Wire)

Khotbah pertama:

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

LOKER AM GROUP

Ayyuhal muslimum rahimakumullah,

Tiada hentinya kita bersimpuh ke hadirat Ilahi Rabbi untuk menumpahkan segenap rasa syukur yang tak terkira atas persembahan nikmat yang begitu melimpah ruah, wabil khusus nikmat kesehatan, sehingga kita bisa hadir di masjid mulia ini untuk menunaikan ibadah wajib shalat Jum’at tanpa terinfeksi oleh Covid-19 yang kini sedang menghiasi cakrawala kehidupan.

Selawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada keharibaan kekasih kita, Rasulullah Muhammad SAW, figur nan mulia di bentala kehidupan semesta yang patut kita jadikan sebagai suri teladan karena integritas beliau niscaya menjadi pesona keindahan sepanjang zaman.

Ayyuhal muslimum rahimakumullah,

Memasuki tahun 2021, Indonesia dipersembahkan oleh sederet bencana yang hadir secara berendeng. Wajar, sebab posisi geografis negeri kita dibelenggu oleh ring of fire, sehingga tak menutup kemungkinan bisa berdikari dari bencana. Bencana yang sering terjadi di negeri kita setiap tahunnya berupa banjir dan tanah longsor. Tahun ini keduanya kembali terjadi dengan spektrum lebih besar dari biasanya yang bersamaan pada gejolak Covid-19.

Sebagai seorang muslim, bencana ini sebagai manifestasi atas kesadaran diri. Sadar bahwa kita mendekam di bumi pertiwi ini hanya sekadar ‘kontrak’, setelah itu akan berpulang ke kampung halaman yang sesungguhnya. Selama mengontrak di bumi, perilaku manusia banyak yang menyelimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perilaku perusakan lingkungan adalah contoh konkretnya.

Kita seyogianya menyadari lingkungan yang begitu kirana, kini telah bertransformasi menjadi kusam. Hal demikian secara kentara bisa ditemukan ketika musim hujan seperti saat ini sedang terjadi, banyak daratan sungai dipelbagai wilayah Indonesia yang meluap akibat tidak mampu menahan debit air yang melampaui batas. Akar dibalik meluapnya itu bersumbu atas bertebaran benih sampah yang menggenangi tubuh sungai.

Aktor di balik ini semua tidak lain ulah tangan manusia itu sendiri. Sekarang banyak manusia yang merusak alam, seakan tidak mensyukuri bentangan keelokan yang disuguhkan oleh Raja Alam Semesta. Manusia telah menentang peringatan-Nya,

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya”. (QS. Al-A’raf [07]: 56).

Ayyuhal muslimum rahimakumullah,

“Manusia makhluk perusak segalanya”, demikian postulat yang boleh disodorkan sesuai kenyataan nan sesungguhnya. Dia merusak apapun yang telah terlihat adiwarna. Begitulah perangai manusia, akankah kita menyadarinya? Sampai kapan kita dikatakan sebagai makhluk perusak?

Melalui bencana alam yang menghantam negeri kita pada saat ini, setidaknya memberikan ia memberikan tiga hal pengajaran bagi kita untuk membersitkan pikiran dan nurani yang jernih. Pertama, jagalah lingkungan. Banyak kelestarian lingkungan yang telah rusak (damaged) akibat sifat ketamakan manusia nian jangkung, sehingga membuat segala hal dilakukan tanpa memikirkan kemaslahatan dan kemudaratannya.

Contohnya manusia yang tinggal dibantaran sungai, mereka dengan serampangan membuang sampah ke sungai, tanpa memikirkan efek panjangnya. Imbasnya bencana banjir pun terjadi. Ini menjadi satu bukti jika manusia belum mampu menjaga lingkungan dengan arif. Menjaga lingkungan itu seyogianya dilatih sejak dini, sehingga mampu menstimulasi kecintaan dengan lingkungan, dengan demikian di masa dewasanya nanti tak akan melakukan perusakan terhadap lingkungan dan bencana pun tidak terjadi. Allah menyinyalir,

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. (QS Ar-Rum [30]: 41).

Kedua, spirit ta’awun. Hadirnya bencana alam ini menjadi wahana kita untuk menggelorakan spirit kemanusiaan semesta. Kita kerucutkan sebagai tolong-menolong tanpa memandang etnik. Menolong menjadi perbuatan adiluhung yang sepantasnya dilatih sejak dini, sehingga dewasanya nanti sudah terbiasa dengan tolong-menolong.

Sebagai seorang muslim, kita mesti menolong saudara kita yang mengalami ketimpangan sosial akibat problematika kehidupan, khususnya bencana alam saat ini. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan dari kita, sehingga mampu menutupi akan hal itu. Allah memfardukan kita untuk menggelorakan tolong-menolong ini,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”. (QS. Al-Maidah [05]: 02).

Ketiga, muhasabahlah. Evaluasilah diri kita semua yang telah berkelindan dengan gelimang dosa. Dosa manusia itu sangat melimpah ruah. Ada yang besar dan kecil, tapi semuanya tetap buruk dalam pandangan Allah. Kiranya dosa inilah yang membenamkan manusia untuk berbuat kerusakan terhadap lingkungan, sehingga muncullah bencana alam secara berkelanjutan. Karenanya, penting untuk kita evaluasi diri,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ

“Duhai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Kejadian bencana alam saat ini hendaknya mampu membangkitkan kesadaran diri bahwa hadirnya bencana alam itu sebagai memorandum kepada kita jika sudah saatnya lingkungan harus kita jaga, rawat, dan lestarikan, sehingga kehidupan bisa terbias dari bencana alam. Mari kita bermunajat kepada Allah agar bencana alam yang kini sedang menghantam negeri kita bisa segara berakhir, sehingga roman kehidupan bisa beralih menjadi adem ayem. Aamiin. •

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

*Disusun oleh : Cristoffer Veron P, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Kota Yogyakarta. Disalin dari laman Suara Muhammadiyah.

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.