SEPUTAR KALTIM
Pemprov Kaltim Berupaya Tambah Populasi Badak Asli Kalimantan

Sejak 2018, seekor badak betina asli Kalimantan bernama Pahu. Tinggal di Suaka Badak Kelian, Kutai Barat. Tanpa teman di kawasan seluas 10 hektare itu. Pemprov Kaltim dan stakeholder sedang dalam upaya keras mencarikan pejantan untuk Pahu. Guna menambah populasi dan kelestarian badak Kalimantan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) dan Resort Konservasi Suaka Badak Kelian Kutai Barat. Bersama pemerintah pusat maupun provinsi. Serta stakeholder lainnya. Terus melakukan upaya konservasi pelestarian badak Kalimantan. Di antaranya dengan melakukan translokasi badak liar menuju konservasi eksitu untuk program pengembangbiakan.
Seperti yang dialami oleh Pahu. Badak Kalimantan berjenis kelamin betina yang menghuni Suaka Badak Kelian, Kutai Barat. Proses penyelamatan Pahu dari alam liar dilakukan sejak 2015. Lalu dipindahkan ke Suaka Badak Kelian pada tahun 2018.

Tempat tinggal baru Pahu tersebut, merupakan hamparan alam seluas 10 hektare. Areanya dikelilingi pagar kawat beraliran listrik untuk mencegah pemburuan liar. Sementara kondisinya menyerupai habitat asli Pahu di alam liar.
Tak sembarang orang juga bisa masuk ke kawasan itu. Hanya penjaga badak beserta dokter hewan saja yang diberi akses khusus.
Untuk pakan, pengelola suaka biasa menyuplai sekitar 25 kilogram (kg) daun dan buah-buahan saban harinya. Yang diambil dari kawasan hutan lindung. Kepala Resort Konservasi Suaka Badak Kelian Kubar, Jono Adiputro menuturkan. Pahu membutuhkan sekitar 10 persen dari berat badannya dalam pemenuhan pakan harian.
“Jadi per hari itu, dia butuh makan sekitar 35 kg daun dan buah-buahan. 25 kilonya kita siapkan, sisanya dia mencari sendiri,” beber Jono, di laman resmi Diskominfo Kaltim.
Saat ini, pengelola suaka selain fokus merawat Pahu. Juga berupaya menambah populasinya. Namun upaya mencarikan pejantan buat Pahu bukanlah hal yang mudah. Karena badak merupakan hewan liar yang soliter atau penyendiri.
Selain itu, badak memiliki indra penciuman yang sangat kuat dan tidak pernah mau bertemu manusia. Jika badak mencium aroma manusia, dia akan bersembunyi.
Jono Adiputro menambahkan, mereka juga tengah menunggu dokumen Rencana Aksi Darurat (RAD) yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Yakni Aceh, Lampung dan Kalimantan.
“Itu pedoman kita untuk melaksanakan kegiatan konservasi. Karena RAD sebelumnya, tahun 2018-2021 sudah habis,” pungkasnya. (dra/ADV DISKOMINFO KALTIM)
-
BALIKPAPAN4 hari agoSambut HUT ke-129, Balikpapan Rilis Logo “Harmoni Menuju Kota Global”
-
GAYA HIDUP3 hari agoAngka Pernikahan 2025 Naik Tipis, Tren ‘Enggan Nikah’ Mulai Melandai?
-
SAMARINDA2 hari agoSamarinda Menuju Usia 358 Tahun: Menelusuri Jejak Enam Kampung Purba dan Akar Sejarah Kota Mahakam
-
BERAU4 hari agoDi Balik Pesona Pantai Payung-Payung, Rudy Mas’ud Soroti Abrasi yang Ancam Jalan Bandara
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoBibit Siklon Tropis 97S Kepung Indonesia Bagian Selatan, Begini Prediksi Cuaca Kaltim Sepekan ke Depan
-
FEATURE3 hari agoFenomena AI di 2026: Jadi “Asisten Hidup” yang Memanjakan, atau Perangkap Ketergantungan?
-
SAMARINDA4 hari agoSambut HUT ke-358 Samarinda, Wawali Saefuddin Buka Turnamen Biliar Berhadiah Rp 100 Juta
-
BALIKPAPAN23 jam agoPendaftaran Balikpapan CSR Awards 2026 Dibuka, 8 Sektor Ini Jadi Prioritas Penilaian

