NUSANTARA
Suara Masyarakat Adat Terdampak IKN, Sibukdin: Hak Kami Masih Terabaikan
Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) digadang-gadang menjadi solusi pemerataan pembangunan di Indonesia. Namun, di balik ambisi besar ini, masyarakat adat justru menghadapi berbagai tantangan.
Kepala Adat Suku Balik, Sibukdin, mengungkapkan bahwa hak-hak masyarakat lokal masih terabaikan, terutama dalam kepemilikan tanah. Selain itu, proyek-proyek pendukung IKN, seperti pembangunan intake Sungai Sepaku, turut membawa dampak negatif bagi lingkungan dan kehidupan warga sekitar.
“Hingga kini, kami belum mendapatkan sertifikat atau legalitas tanah. Seakan-akan tanah kami hanya dipinjamkan oleh pemerintah, padahal kami sudah bermukim di sana jauh sebelum IKN direncanakan,” ujarnya dalam diskusi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman (Unmul), Jumat, 14 Februari 2025.
Ruwetnya Pengurusan Surat Tanah
Sibukdin menyoroti betapa sulitnya masyarakat adat mengurus legalitas tanah mereka. Proses administratif yang berbelit-belit dan penuh istilah hukum yang rumit semakin menyulitkan warga mendapatkan kepastian hukum atas lahan mereka.
Banyak warga yang telah lama tinggal di tanah mereka sendiri, tetapi belum diakui secara hukum sebagai pemilik sah. Akibatnya, mereka menghadapi ketidakpastian terkait status tanah yang telah ditempati turun-temurun.
Selain persoalan tanah, proyek intake Sungai Sepaku yang menjadi salah satu infrastruktur pendukung IKN membawa dampak besar bagi lingkungan sekitar.
Sibukdin menyebut, ratusan pohon mati akibat genangan air yang ditimbulkan proyek tersebut. Kondisi ini memperburuk ekosistem yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat adat.
“Bukan cuma satu pohon, mungkin ratusan yang mati karena tergenang,” katanya.
Kondisi lingkungan sekitar proyek juga semakin membahayakan aktivitas warga. Saat musim hujan, jalanan menjadi licin dan sulit dilalui, sementara saat musim kemarau, debu tebal beterbangan, mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga.
“Kalau musim panas, sampai tidak kelihatan jalan karena debunya,” ujar Sibukdin.
Tuntut Perhatian Serius dari Pemerintah
Masyarakat adat Suku Balik berharap pemerintah lebih serius menangani dampak pembangunan IKN. Sibukdin menegaskan, aspirasi mereka harus didengar dan ditindaklanjuti, bukan sekadar dijanjikan tanpa realisasi.
“Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah. Jangan hanya bicara soal kesejahteraan masyarakat, tapi akhirnya kami justru dikhianati. Bukannya dibina, malah dibinasakan,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa dan dosen yang melakukan penelitian di wilayah tersebut, serta dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kaltim yang terus memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. (tha/sty)
-
MAHULU5 hari agoBuka Isolasi Mahulu, Pembangunan Bandara Ujoh Bilang Sudah 89 Persen Ditargetkan Beroperasi Februari 2026
-
EKONOMI DAN PARIWISATA23 jam agoAkses Pariwisata Kaltim Semakin Mudah, Ini 2 Rute Baru Lion Air Domestik dan Internasional
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoPemprov Kaltim Kebut Cetak Sawah 20 Ribu Hektare, Targetkan Swasembada Pangan Mandiri pada 2026
-
SAMARINDA5 hari agoMinggu Malam, Ustaz Das’ad Latif Bakal Isi Tabligh Akbar di Penutupan Pekan Raya Kaltim 2026
-
HIBURAN5 hari agoLomba, Pameran, hingga Tabligh Akbar, Berikut Rangkaian Keseruan Pekan Raya Kaltim Gratis!
-
SAMARINDA4 hari agoPenumpang Melonjak, Bandara APT Pranoto Ajukan Perluasan “Area Safety” di Sisi Runway
-
SAMARINDA4 hari agoLapas Samarinda Overkapasitas 300 Persen, Andi Harun Siapkan 9 Hektare Lahan di Bayur
-
FEATURE4 hari agoTanggal Merah Januari 2026: Mengacu SKB 3 Menteri, Masih Ada Satu ‘Long Weekend’ Tersisa

