Connect with us

FEATURE

Jadwal Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026, Apakah Terlihat di Indonesia?

Published

on

BRIN pastikan fenomena Gerhana Matahari Cincin terjadi pada 17 Februari 2026 jelang Ramadan. Cek jalur lintasan dan dampaknya di sini.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, sebuah fenomena astronomi langka dipastikan akan menghiasi tata surya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa Gerhana Matahari Cincin (GMC) dijadwalkan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 mendatang.

Pakar Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, membenarkan jadwal terjadinya fenomena yang mempertemukan konstelasi Bumi, Bulan, dan Matahari tersebut.

“Gerhana Matahari cincin menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, 17 Februari 2026,” ungkap Thomas saat memberikan keterangan, Sabtu (14/2/2026).

Mengapa Disebut Gerhana Cincin?

Julukan “cincin api” disematkan pada fenomena ini karena piringan Bulan tidak menutupi siluet Matahari secara sempurna. Akibatnya, dari sudut pandang pengamat di Bumi, akan tersisa pendaran cahaya terang berbentuk lingkaran merah di tepian siluet gelap Bulan.

“Hal itu terjadi ketika Bulan (berada di titik) paling jauh dari Bumi,” terang Thomas.

Kondisi jarak terjauh ini membuat ukuran Bulan tampak lebih kecil. Mengutip data astronomi dari IFLScience, Bulan diprediksi hanya akan menutupi sekitar 92 persen permukaan Matahari. Fase puncak penampakan cincin api ini diperkirakan berlangsung selama dua menit 19 detik.

Absen di Langit Nusantara

Meski wujudnya memukau, fenomena Gerhana Matahari Cincin pertengahan Februari nanti dipastikan tidak akan melintasi langit Nusantara. Penampakan cincin sempurna hanya dapat diamati secara eksklusif dari Benua Antarktika.

Sementara itu, fase Gerhana Matahari Sebagian (GMS) akan membentang di langit Chile, Argentina, dan Afrika Selatan.

“GMC dan GMS tidak dapat dilihat dari Indonesia karena konfigurasi Bumi-Bulan-Matahari membentuk jalur gerhana di Pasifik Selatan dan Antarktika,” papar Thomas.

Dari segi dampak lingkungan, fenomena kosmik ini tidak akan membawa pengaruh signifikan bagi Indonesia. Peningkatan pasang surut air laut secara maksimum diprediksi hanya terjadi di kawasan yang dilintasi jalur gerhana. “Di wilayah jalur gerhana (sekitar Antarktika) dan di belahan bumi sebaliknya (sekitar Kutub Utara, Arktik),” jelasnya.

Kapan Indonesia Bisa Melihat Gerhana?

Sepanjang tahun 2026, kalender astronomi masih menyimpan sejumlah jadwal fenomena gerhana lain. Terdekat, masyarakat Indonesia akan berkesempatan menyaksikan langsung fenomena Gerhana Bulan Total yang dijadwalkan terjadi pada 3 Maret 2026 mendatang.

Sementara itu, fenomena lain seperti Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 dan Gerhana Bulan Sebagian pada 28 Agustus 2026 dipastikan tidak akan terlihat dari Tanah Air. “Hanya gerhana Bulan total 3 Maret 2026 yang bisa diamati di Indonesia,” tutur Thomas.

Bagi masyarakat Indonesia yang menantikan fenomena tertutupnya Matahari oleh siluet Bulan, penantian tersebut membutuhkan waktu beberapa tahun lagi. Thomas memastikan Indonesia baru akan kembali dilewati jalur gerhana matahari pada tahun 2028 dan 2031.

“Gerhana Matahari cincin 21 Mei 2031. Gerhana Matahari sebagian 22 Juli 2028,” tutupnya. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.