EKONOMI DAN PARIWISATA
Pantauan Sembako Kaltim: Beras Stabil, Harga Cabai Rawit Tembus Rp74 Ribu per Kilogram
Disperindagkop UKM Kaltim sebut harga beras dan minyak goreng stabil. Namun cabai rawit merah tembus Rp74 ribu/kg dan daging sapi Rp158 ribu/kg.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus memelototi pergerakan harga bahan pokok di pasaran. Menjelang momen-momen krusial, koordinasi lintas sektor makin dipanaskan lewat High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Samarinda, Jumat (6/3/2026).
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Provinsi Kaltim, Heni Purwaningsih, membeberkan bahwa secara garis besar, harga kebutuhan dapur masyarakat masih cukup terkendali.
Berdasarkan data pantauan harga per 5 Maret 2026, harga komoditas utama harian masih terpantau wajar. Beras medium bertengger di angka Rp15.459 per kilogram, disusul beras premium di harga Rp16.623 per kilogram. Untuk kebutuhan pemanis dan penggorengan, harga gula pasir berada di kisaran Rp18.842 per kilogram. Dan minyak goreng curah sekitar Rp17.714 per liter.
“Secara umum harga beberapa komoditas masih dalam kategori stabil. Namun terdapat komoditas tertentu yang perlu menjadi perhatian. Karena berada di atas harga acuan atau harga eceran tertinggi,” tegas Heni di hadapan peserta rapat.
Daftar Komoditas di Atas Harga Acuan
Peringatan Heni bukan tanpa alasan. Ada beberapa bahan pangan yang harganya sukses melampaui batas acuan pemerintah dan berpotensi membebani pengeluaran masyarakat.
Berikut adalah deretan komoditas yang harganya masih terbilang tinggi:
- Cabai Rawit Merah: Rp74.625 per kilogram (tercatat naik 1,02 persen dari hari sebelumnya).
- Daging Sapi: Rp158.565 per kilogram.
- Cabai Merah Keriting: Rp46.625 per kilogram.
- Bawang Merah: Rp44.983 per kilogram.
Di sisi lain, pergerakan harga harian juga mencatat sedikit kabar baik dari lapak daging ayam yang terpantau turun tipis sekitar 0,20 persen.
Tantangan Distribusi dan Geografis
Heni menjelaskan, ketimpangan harga yang terjadi antar kabupaten/kota di Kaltim adalah hal yang tak bisa dihindari. Jauhnya jarak antarwilayah, tingginya ongkos distribusi logistik, hingga minimnya ketersediaan stok di daerah tertentu menjadi biang kerok utama perbedaan harga tersebut.
Faktor ini pula yang membuat rata-rata harga pangan di Kaltim—khususnya untuk cabai dan daging sapi—masih lebih mahal jika disandingkan dengan provinsi pemasok seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, maupun tetangga terdekat, Kalimantan Selatan.
Untuk meredam gejolak harga yang lebih liar, TPID Kaltim memastikan pengawasan harga pasar dan penguatan jalur logistik terus digenjot bersama pemerintah kabupaten/kota.
Langkah stabilisasi ini tak lepas dari upaya mewujudkan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 yang diusung Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, yakni “Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas” melalui penguatan ekonomi yang inklusif.
“Pengendalian inflasi merupakan bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Heni. (ens)
-
GAYA HIDUP3 hari agoEkonomi Lagi Sulit? Ini 9 Cara Healing Murah Meriah Tanpa Bikin Dompet Menjerit
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoKasus Ajudan Gubernur Kaltim Usai Demo, Bagaimana Perkembangan Terbarunya?
-
POLITIK4 hari agoWagub Seno Aji Minta Maaf ke Prabowo Usai Absen Rakornas, Pilih Tangani Karhutla Kaltim
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoKarhutla Kaltim Mulai Menurun, Apakah Ancaman Asap dan Kekeringan Sudah Berakhir?
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoAntrean BBM di Kaltim Belum Tuntas, Rudy Mas’ud Minta Pertamina Jaga Pasokan
-
POLITIK5 hari agoUsai Demo Besar di Samarinda, Ini Janji Rudy Mas’ud kepada Mahasiswa
-
SAMARINDA2 hari agoPolresta Samarinda Amankan 37 Orang Dugaan Pencurian Kabel Bermodus Penggalian Jalan
-
SAMARINDA3 hari agoLebih dari 60 Titik Galian Ditemukan di Samarinda, Dugaan Pencurian Kabel Bikin Wali Kota Turun Tangan

