Connect with us

SEPUTAR KALTIM

Bunga Terung Kaltim Anggap USD110 Juta Dana Emisi Karbon Adalah Anomali

Published

on

bunga terung
Aksi XR Bunga Terung dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2023. (IST)

XR Bunga Terung Kaltim merasa. Segarnya dana emisi karbon yang diterima pemprov dari Bank Dunia. Tidak sesegar cuaca di Bumi Mulawarman akhir-akhir ini. Mereka lantas menyerukan perubahan kebijakan.

Forest Carbon Partnership Facility Carbon Fund (FCPF–CF) dari Bank Dunia. Telah melakukan penghitungan emisi karbon di Kaltim. Dan menyatakan provinsi ini memiliki cadangan 30 juta ton emisi karbon.

Sebanyak 22 juta dari cadangan itu, ‘dibeli’ oleh Bank Dunia dengan mahar USD110 juta. Atau setara Rp1,6 triliun. Yang pembayarannya dicicil hingga 2025 mendatang. Sementara sisa 8 jutanya, pada Mei lalu dijual oleh gubernur ke negara investor. Lewat kunjungannya ke Brazil.

Untuk diketahui, uang triliunan rupiah itu tidak didapatkan Pemprov Kaltim dalam bentuk uang segar. Yang boleh dipakai untuk apa saja. Namun mesti dipakai untuk program pengendalian emisi karbon selanjutnya.

Kesanksian Bunga Terung Kaltim

bunga terung

Kelompok masyarakat XR Bunga Terung Kalimantan Timur ternya tidak terlalu terkesan dengan pencapaian itu. Pasalnya, saat pemprov sedang sibuk mengurus pencairan sekaligus penjualan emisi karbon. Cuaca di Kaltim sedang tidak menentu.

Baca juga:   Wagub Canangkan Gerakan Kaltim Melawan Osteoporosis

Saat panas, menyengat luar biasa. Namun bisa tiba-tiba hujan dengan intensitas beragam. Bahkan Samarinda sempat kebanjiran beberapa pekan lalu.

Bagi mereka, fenomena ini menunjukkan kalau pengendalian emisi karbon. Yang dilakukan pemprov selama 13 tahun terakhir. Ternyata tidak efektif-efektif amat.

Bunga Terung pun menyerukan aksi pengubahan kebijakan. Menuntut slogan pemerintahan hijau, benar-benar hijau di realisasinya. Berikut adalah siaran pers XR Bunga Terung Kaltim, yang diterima Kaltim Faktual pada Minggu, 4 Juni 2023 siang. (dra)

Siaran Pers Bunga Terung

KIPAS PERUBAHAN IKLIM

Dampak perubahan iklim mulai nyata, masyarakat Samarinda sampai menjelang pertengahan tahun 2023 ini merasakan suhu yang makin panas secara konstan. Namun ditengah panas yang menyengat sering kali tiba-tiba turun hujan yang sangat deras.

Apa yang diprediksi oleh para saintis sebagian mulai terjadi.

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023, XR Bunga Terung Kalimantan Timur mengingatkan pemerintah untuk bertindak lebih tegas, jelas dan terukur dalam mengatasi serta menahan laju peningkatan suhu permukaan bumi.

XR Bunga Terung menilai selama ini Pemerintah Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Samarinda dan daerah-daerah lainnya lebih tenggelam dalam euforia dana iklim, uang karbon yang diperoleh dari pemerintah atau lembaga pendanaan luar negeri.

Mengandalkan uang atau program bantuan luar negeri untuk memitigasi iklim tidak cukup lagi.

Gubernur Provinsi Kalimantan Timur rajin plesiran ke luar negeri untuk mendapat dana iklim lebih banyak lagi, namun masyarakat Kalimantan Timur mesti mengeluarkan uang ekstra untuk membeli AC atau Kipas Angin baru agar tidak kepanasan.

Dana iklim mungkin menyejukkan kantong pemerintah dan para pihak lainnya, namun tidak menyejukkan hati masyarakat luas yang kegerahan karena panas mentari yang makin hari makin menyengat.

Pemerintah yang rajin melabeli diri dengan sebutan green government, politik dan ekonomi hijau dan sebutan-sebutan lain ternyata tak cukup tegas dalam menghentikan konversi hutan dan lahan untuk industri ekstraksi.

Ibarat kata, Doyan Dana Karbon tapi tetap Rakus Hancurin Hutan.

Dalam pandangan XR Bunga Terung Kalimantan Timur ketegasan pemerintah perlu diuji dengan keberanian menyatakan Darurat Iklim. Berani memberitahu kebenaran bahwa kita sudah mengalami krisis iklim sekarang ini. Krisis yang dampaknya bukan hanya ekologis melainkan juga ekonomi, sosial, kesehatan dan politik.

Jika tidak maka euforia soal dana iklim dan klaim keberhasilan dalam memitigasi iklim tak lebih dari upaya green cleansing, upaya cuci dosa atas kesalahan kebijakan dalam tata kelola lahan, hutan dan konsumsi energi yang berbasis fosil.

Pemerintah mesti berhenti menjadi buzzer bagi dirinya sendiri karena merasa telah melahirkan kebijakan dan program untuk mengantisipasi dan mengadaptasi perubahan iklim.

Apapun itu, segenap dokumen dan prestasi yang dibangga-banggakan tak lebih hanya merupakan ‘aksi tipu-tipu’ untuk menutupi ketidaktegasan pemerintah dalam meng – Kipas  berbagai macam perilaku yang menjadi biang Perubahan Iklim.

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Baca juga:   Di Kaltim Ada Ribuan Ormas, yang Aktif cuma Seratusan
Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.