EKONOMI DAN PARIWISATA
Desa Sanggulan Bisa Jadi ‘Hidden Gems’ Pariwisata Kukar
Selain memiliki 5 gua eksotis, Desa Sanggulan masih bisa menggali beberapa hal. Untuk melengkapi paket wisata hulu Mahakam tersebut.
Kabid PKP Diskominfo Kukar, Ahmad Rianto mengunggah sebuah video dialog singkat bersama Akademisi Geologi UMKT Fajar Alam, Jumat 16 Desember 2022.
Perbincangan 2 pria penyuka wisata lokal ini mengarah pada potensi wisata Desa Sanggulan. Kebetulan, Rianto; biasa disapa Arian. Beberapa waktu lalu mengunjungi gua di kawasan Desa Sanggulan bersama stakeholder pariwisata dan jurnalis. Untuk melihat, mencatat, dan mempublikasikan potensi wisata desa yang terletak di Sebulu, Kukar itu.
Fajar Alam mengaku belum pernah mengunjungi Desa Sanggulan. Namun berkat publikasi yang dilakukan, ia jadi tertarik untuk menyambangi desa itu.
Secara tersirat, Fajar mendorong adanya paket wisata di Desa Sanggulan. Bukan tanpa sebab, perlu setidaknya 5 jam perjalanan via Sungai Mahakam dari Tenggarong untuk sampai ke sana. Sehingga jika hanya ada gua, belum bisa menggaransi kepuasan wisatawan. Mesti ada hal lain yang bisa dinikmati.
“Biasanya, dalam kondisi umum. Yang pertama perlu ditampilkan adalah keragaman geologi. Karena saya berlatar pendidikan geologi,” sebut Fajar.
Mengapa wisata geologi? Karena selain keberadaan 5 gua; sebenarnya 6. Namun yang ramah wisatawan ada 5. Di mana gua-gua itu pasti menarik dari sisi geologi. Karena gua tersusun dari unsur-unsur bumi yang tentu unik. Buat sekadar dilihat ataupun dipelajari.
Selain itu, Desa Sanggulan sendiri sudah unik dari sisi geologi. Karena meski secara kewilayahan berada di tepi Sungai Mahakam. Namun memiliki gua yang identik dengan kawasan perbukitan.
“Kedua adalah keragaman hayati. Apa saja keragaman tumbuhan dan hewan yang ada di sana. Kemudian bagaimana adaptasi tumbuhan dengan kondisi geologi yang ada.”
“Ketiga adalah keragaman budaya yang ada. Bisa budaya benda dan budaya tak benda,” lanjut Fajar.
Lebih rinci, Fajar bilang kalau budaya benda bisa berupa makam tua. Atau bangunan tua seperti rumah, tempat ibadah, atau bangunan lainnya. Yang usianya minimal 50 tahun. Untuk memenuhi syarat menjadi cagar budaya.
Narasi yang dibangun untuk menceritakan peninggalan masa lampau ini bisa menarik wisatawan.
Sementara budaya tak benda ialah adat istiadat atau tradisi yang ada. Secara karakteristik, permukiman tepi Mahakam biasanya adalah kawasan tua. Sehingga tradisi ‘lama’ masyarakat setempat bisa dirangkai menjadi bagian dari pertunjukan wisata.
“Mungkin sekarang sudah tidak ada. Tapi kebudayaan 20-30 tahun lalu. Masih bisa diingat dan dikembangkan lagi oleh masyarakat,” pungkasnya.
Jika 3 hal ini bisa dikembangkan, bukan tidak mungkin Desa Sanggulan akan menjadi harta karun pariwisata Kukar pada masa mendatang. Tentunya, ini bisa berdampak baik pada kesejahteraan masyarakat setempat. (dra)
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoWaspada Banjir Rob, BMKG Peringatkan Pasang Laut Kaltim Capai 2,8 Meter Sepekan ke Depan
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoCuma Disokong Rp5 Juta, Kampung Ramadan Temindung Sukses Gerakkan Ekonomi Samarinda
-
SAMARINDA4 hari agoBukan Pasar Musiman Biasa, Dispar Kaltim Apresiasi Kampung Ramadan Temindung yang Jadi Magnet Ngabuburit Baru Samarinda
-
NUSANTARA3 hari agoDua Hari Safari di IKN, Menag Nasaruddin Umar Bicara Toleransi hingga Kota yang Dirindukan
-
NUSANTARA3 hari agoMenag Gagas Istiqlal dan IKN Jadi ‘Masjid Kembar’, Siapkan Beasiswa Ulama via LPDP
-
NUSANTARA4 hari agoRun The City by Grand Filano Jadi Cara Baru Anak Muda untuk Menikmati Olahraga Sambil Hangout Bareng
-
SEPUTAR KALTIM1 hari agoTingkatkan Nilai Jual, DKP Kaltim Pacu Nelayan Olah Tangkapan Jadi Produk Turunan
-
NUSANTARA3 hari agoBukti Pembinaan Mendunia Yamaha Racing Indonesia, Aldi Satya Mahendra Ukir Sejarah di World Supersport Australia, Selanjutnya Targetkan Juara Race

