SAMARINDA
Dukung Regulasi BBM Eceran, DPRD Samarinda: Bukan Menghentikan Perputaran Ekonomi, tapi Menjamin Keselamatan
DPRD Kota Samarinda ikut mendukung regulasi baru soal BBM Eceran yang tertuang dalam SK Wali Kota. Karena di dalamnya tidak tertuang pelarangan mutlak, namun fokus pada perizinan.
Setelah lama menanti, Pemkot Samarinda akhirnya memiliki payung hukum untuk mengatur, mengendalikan, dan menertibkan perdagangan Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran. Keresahan Andi Harun dimulai dari tahun lalu, karena terjadi beberapa kebakaran bersumber dari Pertamini alias Pom Mini di Samarinda.
Sejak itu, ia sudah geregetan untuk menertibkan pedagang BBM eceran yang dinilai lalai atas keselamatan dan keamanan. Namun tak bisa melakukannya, karena terbentur aturan. Bukan karena aktivitas perdagangan BBM eceran dilindungi, tapi karena tak ada aturan yang melarangnya.
Soal regulasi penertiban ini sempat jadi bola panas. Pertamina sempat dimintai pertanggungjawaban, namun masalahnya sama; tak punya kewenangan. Pengusaha SPBU juga. Pemkot dalam dilema.
Setelah melakukan banyak pertimbangan, Pemkot Samarinda akhirnya menetapkan regulasinya, dalam bentuk SK Wali Kota Samarinda tentang Larangan Penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) Eceran, Pertamini dan Usaha Sejenisnya Tanpa Izin di Wilayah Kota Samarinda. Terbit 30 April lalu.
SK tersebut memutuskan 7 hal, yang garis besarnya adalah penjualan BBM eceran harus dilengkapi dengan izin Usaha Niaga. Serta pemkot bisa menertibkan, mengatur, dan mengendalikan usaha tersebut.
DPRD Samarinda Mendukung
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda Fuad Fakhruddin kemudian merespons. Ia mengaku senang, sebab menurutnya kegiatan ekonomi dari BBM Eceran dan sejenisnya yang tidak punya standar keamanan sudah seharusnya diatur.
“Alhamdulillah sudah keluar SK-nya. Dari deretan musibah kebakaran yang terjadi, dari dewan tentu menyuarakan agar Pak Wali mengambil tindakan,” katanya belum lama ini.
Setelah SK keluar, pemkot kini tengah menggencarkan sosialisasi. Agar masyarakat dan para pelaku usaha BBM Eceran bisa mengerti. Dan BBM eceran bisa menghabiskan stok terlebih dahulu.
Fuad meminta kepada masyarakat, terutama para pelaku usaha BBM eceran agar bisa memahami terbitnya aturan ini. Mengingat distribusi resmi terakhir BBM dari Pertamina hanya sampai di SPBU saja.
Di dalam SK, Wali Kota Samarinda tidak melarang mutlak keberadaan BBM eceran. Namun mengaturnya dengan perizinan ketat, agar standar keamanan bisa tercapai. Sehingga bisa memberikan jaminan keselamatan, tidak semata menghentikan perputaran ekonomi.
“Makanya di dalam keputusan daripada wali kota tersebut menyebutkan harus berizin,” tambahnya.
Dengan adanya regulasi baru ini, tentunya musibah kebakaran dengan faktor serupa tidak lagi terjadi. Dan mendorong agar Pertamina memperketat distribusi BBM-nya agar tepat sasaran. (ens/fth)
-
OLAHRAGA4 hari agoAmar Brkic Pecahkan Rekor 13 Tahun di Borneo FC, Golnya Bukan Sekadar Penentu Kemenangan
-
SAMARINDA2 hari agoAir Sungai Karang Mumus Mendadak Hijau, DLH Samarinda Selidiki Dugaan Pencemaran
-
PARIWARA4 hari agoWarga Samarinda Beli Yamaha NMAX, Malah Bawa Pulang Fazzio Gratis
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoAduan Upah Karyawan PT Ekaliya Purnamasari, Seno Aji Minta Disnakertrans Turun Tangan
-
OLAHRAGA4 hari agoBorneo FC Bawa Modal 5 Gol ke Markas PSS, Tapi Ada Tantangan yang Menanti
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoBanyak Kendaraan Perusahaan Masih Pakai Pelat Luar Kaltim, Diminta Segera Ganti KT
-
NUSANTARA2 hari agoEmpat Bocah Samarinda dan Seekor Bekantan: Kisah Kecil yang Mengajarkan Arti Peduli
-
OLAHRAGA3 hari agoMenang di Kandang PSS, Mauro Jeronimo Ungkap Pekerjaan Rumah Borneo FC

