OLAHRAGA
Ini Penyebab Pemain Borneo FC Kurang Chemistry di Akhir Kompetisi
Borneo FC bukan hanya gagal menuju partai final Championship Series Liga 1 2023-2024. Namun juga gagal mempertahankan level permainan serta tren positif jelang kompetisi berakhir. Kurang adanya chemistry antarpemain dituding jadi penyebabnya. Pelatih Pieter Huistra lantas menjelaskan situasinya.
Setelah menjalani 19 laga tanpa mengalami kekalahan, Borneo FC Samarinda mengalami penurunan drastis di 4 laga terahir Reguler Series. Dimulai dari kekalahan pertama di kandang sendiri, dengan skor mencolok 4-0 pula, dari Madura United. Lanjut kalah 2-1 di kandang sendiri juga dari Arema FC. Lalu kembali kalah 2-1 di 2 laga terakhir dari Persib dan Dewa United.
Tren kekalahan belum berhenti di situ. Pada 2 laga Semifinal Chapionship Series, lagi-lagi Pesut Etam mengemas 2 kekalahan. Sehingga totalnya ada 6 laga yang berujung 6 kekalahan.
Chemistry Pemain Borneo FC
Musim ini, Pasukan Samarinda menerapkan permainan menekan dan atraktif. Memainkan bola dari kaki ke kaki dengan cepat, juga transisi antarlini yang baik. Kunci utama supaya pemain bisa menjalankan taktik ini adalah memiliki chemistry.
Semua pemain di lapangan mesti bisa memahami arah gerak tanpa bola kawannya. Serta menduga ke mana pemegang bola mengalirkan umpannya. Awalnya chemistry itu begitu terlihat. Hingga muncul kelakar, “Adam Alis pejam saja, atau asal tendang saja, bolanya akan sampai di kaki Stefano Lilipaly.” Saking kuatnya chemistry pemain Borneo FC.
Namun ikatan itu seolah menghilang dalam permainan mereka jelang akhir kompetisi. Bicara laga paling terbaru saja. Silverio dan Kei Hirose sempat bersitegang beberapa detik, karena missed communication saat menekan pemain Madura United. Lalu Fajar yang sempat meluapkan frustasinya karena saat menguasai bola, tak ada rekannya yang membuka ruang. Serta beberapa momen lainnya.
Buntu saat akan membuat peluang, panic ketika diserang. Bukan Borneo FC banget.
Penjelasan Pieter Huistra
Pelatih Pieter Huistra tak menampik anggapan itu. Dan tentu, hilangnya chemistry di lapangan ada penyebabnya. Bukan karena hal non teknis seperti kurangnya kepercayaan atau renggangnya hubungan antarpemain. Melainkan murni faktor teknis.
Juru taktik asal Belanda menyebut badai cedera yang dialami timnya menjadi penyebab utama. Sehingga winning team tak lagi bermain bersama untuk waktu yang cukup lama. Meski secara individual, pemain pelapis memiliki kualitas yang membuatnya puas. Namun dari sisi permainan tim, kurang padu.
Dan atas semua yang terjadi, Pieter tak ingin menyalahkan siapapun. Terlebih untuk para pemain pelapis yang juga sudah bekerja keras.
“Kami tak mempunyai tim (kedalaman skuad) yang besar. Selain itu, kami kehilangan empat pemain untuk timnas juga mempunyai pemain yang cedera di saat yang bersamaan.”
“Lalu pemain muda haruslah masuk. Di satu sisi itu kurang bagus karena itu mungkin akan mengakibatkan sesuatu terhadap hasil (akhir pertandingan). Tapi di sisi lain, itu sangat bagus. Saya sangat suka melihat Ezzi, Rivaldo bisa masuk ke pertandingan dan menunjukkan diri mereka.”
“Tentu saja mereka tak bersalah karena mereka tak memiliki pengalaman seperti pemain lainnya. Tapi, itu bagus jika itu bisa terjadi, itu tak bagus karena kami kalah di pertandingan. Itu menunjukkan bahwa musim depan tim harus lebih besar.”
“Pemain baru akan memberikan energi yang baru. Dan kami sedang mengerjakan itu. Jadi, kami mempunyai liburan yang pendek tahun ini. Tapi, kami akan kembali dengan banyak ambisi tentunya,” demikian Pieter Huistra. (dra)
-
BALIKPAPAN5 hari agoKomisi III DPRD Balikpapan Dorong Pemanfaatan Desalinasi Air Laut
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoHeboh Anggaran Rp25 Miliar! Pemprov Kaltim Bongkar Fakta Renovasi Rumah Dinas Gubernur
-
BALIKPAPAN3 hari agoKomisi IV DPRD Balikpapan Mediasi Sengketa Lahan PJHI, Dorong Penyelesaian Damai
-
SAMARINDA2 hari agoPemprov Kaltim Klarifikasi Isu BPJS Samarinda: Bukan Dihentikan, Ini Penjelasan Lengkapnya
-
PARIWARA3 hari agoBidik Kemenangan di ARRC Sepang, Yamaha Racing Indonesia Siap Tampil Maksimal

