Connect with us

KUKAR

Jangkauan Program Distanak Kukar Terkendala SDM dan Fiskal

Published

on

Luas wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi salah satu pertimbangan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) dalam menjangkau seluruh kawasan pertanian. Selain faktor geografis, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan fiskal juga menjadi tantangan dalam pemerataan pelaksanaan program.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara, Moh. Rifani mengatakan, tantangan utama yang dihadapi bukan semata-mata persoalan geografis. Menurutnya, Distanak harus berhadapan dengan keterbatasan SDM dan kemampuan fiskal daerah.

“Sebenarnya enggak ada kendala. Kalau kendala itu di jumlah SDM saja,” kata Rifani, Selasa (22/9/2026).

Ia menjelaskan, Distanak Kukar telah memiliki sejumlah mekanisme penyaringan untuk memastikan program maupun bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan. Termasuk dalam penyaluran alsintan, dinas telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) sebagai dasar pelaksanaan.

Namun, keterbatasan jumlah SDM membuat jangkauan pelayanan ke seluruh wilayah Kukar tidak selalu mudah. Kondisi tersebut kemudian diperberat dengan keterbatasan fiskal yang membuat ruang pemerintah untuk menjalankan program menjadi lebih terbatas.

“Kita dengan kondisi SDM kita yang terbatas. Terus fiskal juga kita terbatas. Nah, ini yang agak-agak menyulitkan kita sebenarnya untuk menjangkau lokasi-lokasi,” jelas Rifani.

Sementara itu, luas wilayah Kukar juga membuat sebaran kawasan pertanian tidak selalu berada dalam satu hamparan yang mudah dijangkau. Rifani memberikan gambaran, luasan pertanian yang di daerah lain dapat terkonsentrasi dalam satu kawasan, di Kukar bisa tersebar di sejumlah kecamatan.

“Kalau di tempat lain misalnya 500 hektare itu suatu hamparan. Kalau kita 500 hektare itu ada di Kecamatan A, Kecamatan B,” ungkapnya.

Meski demikian, kondisi geografis tersebut menurut Rifani bukan sesuatu yang baru bagi Distanak. Pemerintah daerah telah memahami karakter wilayah Kukar sehingga tantangannya adalah menemukan pola kerja yang mampu menjangkau kawasan-kawasan tersebut secara efektif.

“Kalau menurut saya itu bukan tantangan sih. Kita sudah tahu memang kondisi kita seperti itu. Nah, tinggal bagaimana cara kita menjangkaunya saja,” katanya.

Karena itu, Distanak mendorong munculnya terobosan baru dalam menjalankan program pertanian. Salah satunya dengan memastikan pembangunan maupun intervensi tidak dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi terintegrasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Rifani menegaskan, kerja keras harus dibarengi dengan pola kerja yang lebih cerdas dalam menghadapi keterbatasan tersebut. Pendekatan itu dinilai penting agar program pertanian tetap dapat berjalan di tengah keterbatasan sumber daya.

“Jadi kita harus perlu terobosan-terobosan baru. Makanya dengan teman-teman, pesan dari Bupati, pesan dari mantan Bupati kita juga seperti itu. Kita harus bekerja keras dan bekerja cerdas,” pungkas Rifani. (am)

POPULER