EKONOMI DAN PARIWISATA
Nostalgia di Pasar Tumpah Pringgondani, Wisata Unik Baru di Balikpapan
Kota Balikpapan punya alternatif wisata baru. Namanya Pasar Tumpah Pringgondani. Hutan penelitian yang kini dialihfungsikan sebagai wisata budaya, kuliner, sekaligus alam. Tempat nostalgia suasana desa di Jawa zaman dulu.
Ada yang berbeda di Kota Balikpapan. Karena punya tempat wisata baru yang unik dan satu-satunya di Kaltim. Pasar Tumpah Pringgondani. Wisata alam, sekaligus wisata kuliner, budaya, dan edukasi.
Hidden gems baru ini letaknya di Balikpapan Timur. Tepatnya di Gang Binjai, Teritip. Masih dekat dengan wisata populer lain seperti Pantai Manggar, Pantai Lamaru, dan Penangkaran Buaya.
Basis wisata ini memang pasar. Pasar yang menjual barang dagangannya, hingga tumpah ke jalan. Alias pasar dadakan. Dan tidak buka setiap hari. Karena hanya buka ketika weekend dan tanggal merah.
Yang unik adalah yang ditawarkan oleh Pasar Tumpah Pringgondani. Mulanya merupakan Bukit Pringgondani Balikpapan. Hutan milik pribadi yang merupakan taman dan kebun penelitian agronomi.
Namun kini telah dialihkanfungsikan. Pasar Tumpah Pringgondani menjual berbagai buah dan makanan tradisional khas Jawa. Para penjualnya pun menggunakan pakaian adat Jawa dan topi capil.
Suasana hutan, ditambah pengelolaan tempat yang dikonsep khusus dengan suasana Jawa. Semua serba tradisional. Tidak ada penggunaan kantong plastik, bahkan jual beli dilakukan menggunakan kayu.
Pengelola Pasar Tumpah Pringgondani, Maria bilang. Kalau wisata ini cocok buat nostalgia dengan nuansa desa di Jawa pada masa lampau. Apalagi di Balikpapan banyak perantau.
“Jadi perantau yang kangen sama suasana Jawa, bisa banget ke sini. Atau yang penasaran, semua masih kental dengan Jawa. Kalau kangen masakan Jawa, di sini ada,” jelas Maria Kamis, 15 Februari 2024.
“Ada pecel kembang turi, sego margono, ada gudeg. Jadi enggak perlu jauh-jauh ke Jawa gitu kan gitu,” tambahnya.
Awal Mula Jadi Tempat Wisata

Maria cerita kalau awalnya ini merupakan kebun milik pribadi. Mulai ditanam sejak 2006. Kemudian kebun itu digunakan sebagai penelitian agronomi. Karena memang banyak jenis tanaman di sana.
Ada Asam Jawa, Asam Keranji, Pohon Alpukat, Pohon Anggur, Bengkirai, Durian, Cempedak, Bidara, Kapur, Kayu Manis, Matoa, Kenanga, Mangga, Meranti, Mahoni, Palm, dan masih banyak lagi.
Kemudian lama tak terurus. Tanah milik Suratan yang memang perantauan dan asli orang Jawa. Pada menjelang akhir 2023, dibuatlah Pasar Tumpah Pringgondani dengan budayanya yang khas.
“Tanah punya Bapak, semua ide juga dari Pak Suratan, tempat wisata yang buat nostalgia. Penelitian sudah enggak ada lagi sih di sini,” kata Maria.
Pasar Tumpah Pringgondani kemudian diresmikan oleh Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud pada 4 Februari 2024 lalu. Resmi menambah daftar tempat wisata di Kota Beriman.
Pertahankan Konsep dan Buat Pembaruan

Meski belum sempurna. Kata Maria, Pasar Tumpah Pringgondani sambil buka, sambil berbenah. Semua kritik dan saran dari pengunjung diterima dengan baik.
Bahkan pasar yang mulamya buka dari jam 7 pagi sampai siang hari. Dan hanya buka pada hari Minggu saja. Kini menambah hari dan jam buka. Sesuai permintaan pengunjung yang cukup membludak.
Kini Pasar Tumpah Pringgondani buka pada Sabtu, Minggu, dan tanggal merah. Mulai dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Meski menjelang sore, banyak makanan di sana mulai habis.
Konsep yang sudah bagus itu, menurut Maria akan terus dipertahankan. Selain itu berbagai perbaikan fasilitas juga akan terus dilakukan. Sebab saat ini kebun seluas 2 hektar itu belum sepenuhnya digunakan.
“Kita mau ada perbaikan jalan, perbaikan fasilitas. Biar pengunjung nyaman. Masih banyak yang akan dilakukan.”
Pasar Keramat
Pasar Keramat jadi satu inovasi bagus. Pasar Keramat ini sebetulnya sama dengan Pasar Tumpah. Namun hanya buka sebulan sekali pada awal bulan. Yakni tiap Sabtu pertama setiap bulan.
Pasar Keramat ini dibuat agar pengunjung tidak bosan. Karena di Pasar Keramat, tidka hanya budaya jawa yang ditampilkan. Tapi juga budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Masih dengan konsep tradisional. Penjual menggunakan baju adat. Lalu, dari segi makanan pun akan lebih bervariasi. Karena tidak terpusat makanan Jawa.
Selain itu, ada pertunjukkan kolosal di Pasar Keramat. Sehingga itu jadi daya tarik tersendiri. Cerita yang disajikan pun selalu berbeda. Sehingga ketika pengunjung datang, selalu ada hal baru.
“Kami di sini selalu mengusung tradisional. Wisata budaya dapat, wisata kuliner dapat, wisata edukasi dengan belajar kebudayaan dan nama tanaman juga bisa. Lengkap banget,” pungkas Maria. (ens/dra)
-
EKONOMI DAN PARIWISATA5 hari agoCuma Disokong Rp5 Juta, Kampung Ramadan Temindung Sukses Gerakkan Ekonomi Samarinda
-
SAMARINDA5 hari agoBukan Pasar Musiman Biasa, Dispar Kaltim Apresiasi Kampung Ramadan Temindung yang Jadi Magnet Ngabuburit Baru Samarinda
-
NUSANTARA4 hari agoDua Hari Safari di IKN, Menag Nasaruddin Umar Bicara Toleransi hingga Kota yang Dirindukan
-
NUSANTARA4 hari agoMenag Gagas Istiqlal dan IKN Jadi ‘Masjid Kembar’, Siapkan Beasiswa Ulama via LPDP
-
NUSANTARA4 hari agoRun The City by Grand Filano Jadi Cara Baru Anak Muda untuk Menikmati Olahraga Sambil Hangout Bareng
-
KUTIM2 hari agoAkhiri Penantian 13 Tahun, Jembatan Sungai Nibung Rp176 Miliar Resmi Beroperasi di Kutai Timur
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoBukan Sekadar Gelar, Pemprov Kaltim dan KPK Saring Ketat Kandidat Desa Antikorupsi 2026
-
KUTIM2 hari agoTinggalkan Era Jual Bahan Mentah, Gubernur Rudy Mas’ud Kebut Hilirisasi di KEK Maloy

