Connect with us

GAYA HIDUP

Angka Pernikahan 2025 Naik Tipis, Tren ‘Enggan Nikah’ Mulai Melandai?

Published

on

Tren ‘enggan nikah’ mulai melandai? Data terbaru tunjukkan kenaikan angka pernikahan di 2025, meski masih jauh dari level normal satu dekade lalu. Cek faktanya.

Laju penurunan angka pernikahan di Indonesia yang terjadi secara tajam dalam tiga tahun terakhir akhirnya tertahan.

Berdasarkan data terbaru per 31 Desember 2025, jumlah pernikahan di tanah air mencatatkan kenaikan tipis dari tahun sebelumnya. Meski belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan ke level satu dekade lalu.

Merujuk pada data Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) Kementerian Agama (Kemenag), peristiwa nikah sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 1.479.533 pasang.

Angka ini mengalami kenaikan sebanyak 1.231 peristiwa jika kita bandingkan dengan data tahun 2024. Yang berada di titik terendah, yakni 1.478.302 pasang.

Secara statistik, kenaikan yang tidak sampai 0,1 persen ini memang belum bisa disebut sebagai lonjakan minat menikah. Namun, data ini menjadi sinyal bahwa tren penurunan drastis yang terjadi pasca-pandemi mulai menemui titik jenuh atau melandai.

Kontraksi Satu Dekade

Kendati mencatatkan sedikit kenaikan tahun ini, angka pernikahan di Indonesia sejatinya masih mengalami kontraksi yang dalam jika menariknya dalam perspektif satu dekade.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2014, angka pernikahan di Indonesia masih berada di angka 2,11 juta pasang. Penurunan mulai terjadi secara bertahap, sempat bertahan pada level 2 juta pada 2018, sebelum akhirnya merosot tajam ke level 1,4 juta dalam kurun waktu 2021-2024.

Artinya, jika kita bandingkan dengan standar normal sepuluh tahun lalu, Indonesia telah “kehilangan” potensi lebih dari 600 ribu pernikahan per tahunnya saat ini.

Menunggu Data Agregat BPS

Perlu menjadi catatan, angka yang beredar saat ini merupakan data riil (flow data) dari pencatatan Kemenag. Sementara itu, laporan resmi statistik tahunan yang menyajikan demografi rinci—seperti profil usia dan latar belakang ekonomi pasangan—baru akan rilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi “Statistik Indonesia 2026” pada kuartal pertama tahun ini.

Meski demikian, data SIMKAH Kemenag tetap menjadi indikator awal yang valid untuk memotret situasi sosial terkini sebelum laporan agregat BPS diterbitkan.

Stagnannya angka pernikahan di level 1,47 juta ini mengindikasikan bahwa fenomena penundaan pernikahan di kalangan muda bukan sekadar dampak sesaat. Faktor kemandirian finansial, tantangan kepemilikan hunian, serta pergeseran prioritas gaya hidup disinyalir membuat keputusan menikah menjadi lebih kalkulatif dari dekade sebelumnya. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.