SEPUTAR KALTIM
Angka Stunting di Kaltim Turun, Dinkes Masih Terus Intervensi dengan Program Prioritas
Meski angka stunting di Kaltim tampak turun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim masih terus melakukan intervensi. Agar angkanya terus turun dan tidak terjadi peningkatan. Berikut beberapa upaya yang menjadi program prioritas.
Kasus stunting masih menjadi momok bagi kesehatan anak di Indonesia. Termasuk juga di Provinsi Kaltim. Pemerintah Provinsi Kaltim bersama pemerintah kabupaten/kota di Kaltim terus berupaya agar stunting terus turun.
Stunting sendiri merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak akibat kekurangan gizi. Baik terjadi pada masa kehamilan maupun pertumbuhan. Sehingga anak tidak tumbuh dengan semestinya.
Di Kaltim masih ada ribuan anak yang mengalami stunting. Pada tahun 2021 hingga 2022, angka stunting sempat meningkat. Dari 2021 sebesar 22.8%, lalu terjadi kenaikan prevalensi stunting pada 2022 sebesar 1.1%, menjadi 23.9%.
Pada 2023, Pemprov Kaltim sedikit berhasil menekan angka stunting. Tren penurunan tersebut terus terjadi hingga tahun 2024 ini. Tercatat angka stunting menjadi 18,3% per Desember 2023 dan 14,5% per Juni 2024.
Upaya Dinkes
Sampai saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim masih terus berupaya mengintervensi untuk menekan angka stunting di 10 kabupaten/kota. Dengan melalui program-program prioritas. Misalnya penanggulangan stunting dan masalah gizi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kaltim, Fit Nawati mencatat ada sekitar 34.440 balita yang stunting di Kaltim. Lalu 12.752 balita gizi kurang tidak stunting. Lalu 1.971 balita gizi buruk tidak stunting.
Jumlah itu berdasarkan total angka di 10 kabupaten/kota di Kaltim. Rekap angka pada Juni-September 2024. Dari angka itu, ribuan balita sudah dilakukan intervensi melalui puskesmas dan rumah sakit.
“Dalam upaya penanganan, sebetulnya 70% itu ada di lintas OPD. Sementara 30 persennya ada di Dinas Kesehatan Kaltim,” kata Fit Nawati Jumat, 16 Oktober 2024.
Beberapa upaya yang dilakukan oleh Dinkes Kaltim, memastikan pemberian ASI eksklusif kurang dari 6 bulan dan bayi usia sampai 6 bulan mendapat ASI eksklusif 64,42%. Lalu intervensi kepada balita untuk tambahan gizi.
Selanjutnya menargetkan sebanyak 85,74% balita memperoleh imunisasi dasar lengkap. Lanjut Fit Nawati, adanya pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal dan makanan tambahan medis khusus.
“Bisa berupa susu dan makanan gizi mikro lainnya dari dokter umum dan dokter spesialis. Untuk anak balita terdiagnosis stunting ada/tanpa red flag dirujuk ke fasilitas kesehatan,” tambahnya.
“Pemberian Makanan tambahan sumber protein dari Dinas pangan, Dinas perikanan, dan Dinas Peternakan,” sambung Fit Nawati.
Selain itu Fit Nawati juga mendorong agar setiap pemerintah daerah di 10 kabupaten/kota di Kaltim dapat berinovasi untuk pencegahan dan penurunan stunting. Baik melalui edukasi remaja dan ibu hamil.
Dengan berbagai upaya tersebut, tentu diharapkan angka stunting di Kaltim bisa terus menerus turun. Sehingga akan membentuk generasi yang berkualitas untuk masa depan Kaltim. (ens/fth)
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoRudy Mas’ud Rotasi 49 Pejabat Pemprov Kaltim, Enam Kepala OPD Bergeser
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoBacklog Perumahan Kaltim Tembus 591 Ribu KK, Pemprov Genjot Subsidi Biaya Rumah dan RTLH
-
BALIKPAPAN3 hari agoUniba Jadi Kampus Pertama di Kaltim Gandeng BPJS Ketenagakerjaan
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoTarget Bedah Rumah Kaltim Turun, 2026 Hanya 519 Unit
-
BALIKPAPAN5 hari agoBacitra Segera Meluas ke Manggar dan Km 23, Angkot Diminta Tak Tersisih
-
SAMARINDA2 hari agoYamaha Gear Ultima Family Picnic Meriahkan Yamaha Customer Day 2026 di Samarinda
-
KUKAR4 hari agoProsesi Sakral Erau Adat Kutai 2026 Berakhir, Rangkaian Dilanjutkan dengan Ziarah
-
KUKAR3 hari agoStunting Kukar Tak Hanya Ditangani dari Sektor Kesehatan

